Detail Article

Sel Punca Mesenkimal pada Stroke Hemoragik, Bagaimana Hasilnya?

dr. Hastarita Lawrenti
Jan 09
Share this article
2d74da475547b6961ef0e8eb16e2e0b2.jpg
Updated 09/Jan/2026 .

Pada stroke hemoragik, terapi yang tersedia memberikan sedikit manfaat dalam neurogenesis dan pemulihan. Terapi berbasis sel punca berpotensi memberikan manfaat neurorestoratif. Secara teoritis, terapi berbasis sel punca dapat menghambat efek tak diinginkan yang disebabkan respons inflamasi dan stres oksidatif, pada waktu yang sama meningkatkan angiogenesis dan neurogenesis. Laporan kasus berikut menunjukkan adanya perbaikan klinis yang konsisten dengan pemberian sel punca UC-MSC dan secretome pada pasien stroke hemoragi. Selain sel punca, pasien juga mendapat fisioterapi, terapi okupasi, akupuntur, dan farmakologi secara konsisten.

Stroke didefinisikan sebagai gangguan neurologis akut akibat cedera fokal pada sistem saraf pusat yang disebabkan oleh faktor vaskular, seperti perdarahan subaraknoid (SAH), perdarahan intraserebral (ICH), atau infark serebral. Stroke hemoragik lebih sering ditemukan di Asia (15%–40%) dibandingkan negara maju (15%–20%). Di Indonesia, stroke hemoragik menyumbang sekitar 32,9% dari seluruh kasus stroke, dengan angka kematian dalam 48 jam sebesar 20,3%, jauh lebih tinggi dibandingkan stroke iskemik (8,3%).

Pasien yang selamat dari stroke hemoragik sering mengalami gangguan jangka panjang berupa hemiparesis, paralisis, gangguan psikomotorik, nyeri kronik, serta gangguan perilaku dan kognitif. Kondisi ini menghambat pemulihan fungsional dan reintegrasi sosial. Sayangnya, terapi konvensional saat ini memiliki manfaat yang terbatas dalam mendorong neurogenesis dan pemulihan jaringan saraf. Oleh karena itu, terapi berbasis sel punca menjadi pendekatan yang menjanjikan karena kemampuannya untuk menekan inflamasi dan stres oksidatif, sekaligus merangsang angiogenesis dan neurogenesisdua proses kunci dalam pemulihan jaringan otak setelah perdarahan.

Dalam konteks stroke hemoragik, mesenchymal stem cells (MSC) bekerja terutama melalui mekanisme parakrin, yaitu dengan melepaskan berbagai molekul bioaktif berupa protein, lipid, asam nukleat, serta vesikel ekstraseluler yang dikenal sebagai secretome atau MSC-conditioned medium (MSC-CM). Secretome memiliki efek anti-inflamasi, pro-angiogenik, pro-sinaptogenik, serta berfungsi sebagai kemoatraktan untuk sel-sel regeneratif. Selain itu, secretome juga dapat menstimulasi diferensiasi sel menuju jalur neurogenik, serta memberikan efek anti-apoptosis dan anti-edema yang penting dalam mengurangi kerusakan jaringan otak pasca-stroke.

Laporan ini menggambarkan kasus seorang perempuan berusia 50 tahun yang dirujuk ke RSCM dengan penurunan kesadaran akut, didahului oleh sakit kepala hebat dan muntah proyektil, diikuti kesemutan dan kelemahan sisi kanan tubuh, gangguan bicara, serta riwayat hipertensi. Pemeriksaan menunjukkan hipertensi derajat 2 dan stroke hemoragik berupa perdarahan intraserebral thalamus disertai perdarahan intraventrikular (ICH thalamus + IVH).

Penatalaksanaan awal dilakukan dengan kontrol tekanan darah dan tekanan intrakranial menggunakan manitol, amlodipine, dan nicardipine titrasi, disertai citicoline, paracetamol, mecobalamin, tranexamic acid, sedasi, dan analgesik di ICU. Setelah lima hari, CT scan otak menunjukkan perbaikan. Satu bulan kemudian, pasien dipulangkan setelah CT scan lanjutan tidak menunjukkan perdarahan intraventrikular tambahan.

Empat bulan setelah keluar dari rumah sakit, pasien masih mengalami hemiparesis kanan, spastisitas jari tangan dan kaki kanan, instabilitas postural, serta gangguan sensorik. Pasien kemudian menjalani terapi sel punca berupa implantasi 2,5 juta sel UC-MSC yang dikombinasikan dengan 5 cc secretome. Evaluasi awal pasca-terapi menunjukkan penurunan ringan spastisitas, meskipun masih disertai mati rasa dan kesemutan pada sisi kanan tubuh, serta gangguan keseimbangan saat berjalan.

 

Kesimpulan:

Kasus ini menggambarkan potensi terapi berbasis MSC dan secretome sebagai pendekatan neurorestoratif pada pasien stroke hemoragik dengan defisit neurologis kronik, terutama melalui mekanisme antiinflamasi, anti-edema, dan stimulasi perbaikan jaringan saraf.


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato element)

  1. Kurniawan M, Kamelia T, Ramli Y, Yunus RE. The role of mesenchymal stem cells for hemorrhagic stroke management. Acta Med Indones – Indones J Intern Med. 2025;57(4):514-20.
  2. De la Calle S, Zurita M. Mesenchymal stem cell for hemorrhagic stroke: a clinical review. Regen Ther. 2025;30:173-81 doi: 10.1016/j.reth.2025.05.011.
Share this article
Related Articles
Related Products
a67d87d747817244a7ad753d94390bef.jpg
30525a8dda13bda97ac1ffa62a674c8d.jpg
dbb79aa163a73c723164d7e26009edab.jpg
4431c44b99239f5ffe960a390cc0d22c.jpg
eb007c7071957d0db5f71f528bb051ea.jpg
cc7f9568a3fcdc82348afb297c5664ed.jpeg
924baabc72a183202ec021e455c835ef.jpg
04f01f30b0a4f49c40e77ca6d6ef7b77.jpg
d9e04228feba274e954728ecbe866edb.jpg