CABG merupakan salah satu jenis prosedur paling tinggi berisiko terjadinya SSC, terutama dehisens dan infeksi sternotomi. Penggunaan sNPWT dapat dianggap sebagai intervensi penghematan biaya yang mengurangi SSC setelah operasi CABG dibandingkan dengan perawatan standar.
Surgical site complications (SSCs), termasuk luka dehisensi, seroma, dan infeksi lokasi pembedahan (SSI – surgical site infection / ILO – infeksi luka operasi), dapat terjadi pada sayatan pembedahan tertutup (closed incision). Langkah pencegahan SSC selama pasca operasi dapat menghindari hasil yang tidak diinginkan, seperti penyembuhan luka yang tertunda dan jaringan parut abnormal pada luka sayatan. Hal ini juga sangat penting untuk beberapa operasi bedah thorax yang berisiko terjadinya SSC, termasuk tindakan cangkok bypass arteri coroner (CABG – coronary artery bypass grafting), operasi alat bantu ventrikel kiri (left ventricular assist device surgeries), dan tindakan transplantasi.
Risiko SSC setelah CABG juga bergantung dari teknik bedah yang diambil; CABG konvensional yang dilakukan melalui midline sternotomi dikaitkan dengan tingkat komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan teknik minimal invasif.
Data global juga menunjukkan bahwa SSI pada lokasi sayatan sekunder seperti lokasi pengambilan vena saphena dapat menjadi sumber morbiditas yang substansial, terutama dengan penggunaan
teknik pengambilan vena konvensional dibandingkan dengan pendekatan minimal invasif.
CABG dinilai sebagai prosedur berisiko tinggi karena potensi terjadinya komplikasi serius seperti infeksi luka sternum (SWI – sternal wound infections) yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian, panjangnya lama rawat inap, dan berkaitan dengan beban biaya perawatan. Data dari Japan Adult Cardiovascular Surgery Database menunjukkan bahwa di antara 46.268 pasien yang menjalani CABG selama 2008-2011, terdapat 1,9% (n=859) pasien didiagnosis mengalami infeksi luka sternum dalam.
Di antara 50 responden (38% RS umum, 30% RS nasional/publik, 24% RS pendidikan), sebagian besar setuju bahwa konsekuensi terjaidnya SSC setelah operasi kardiovaskular lebih parah dibandingkan operasi lainnya (78%). Pencegahan SSC merupakan prioritas setelah tindakan CABG (80%) dan bahwa prosedur pascaoperasi penting untuk mengelola risiko SSC (84%).
Namun, sNPWT jarang digunakan secara rutin 2% (n=1). Peresepan sntibiotik merupakan strategi pencegahan SSC yang paling umum masih dilakukan sebanyak 80% (n=40) responden kepada pasien setelah operasi CABG. Selain itu, plester dengan padding selalu digunakan oleh 52% (n=26). 1
Selama proses studi, baru 24% responden yang melaporkan penggunaan sNPWT sebagai profilaksis, dimana 44% menggunakan sNPWT hanya jika terdapat tanda-tanda SSC saja.
Negative pressure wound therapy (NPWT), termasuk versi sekali pakai (single-use NPWT/sNPWT), terbukti membantu penyembuhan luka operasi tertutup dengan mekanisme mengurangi tegangan pada area luka, memperbaiki aliran limfatik, serta menurunkan risiko pembentukan edema, serta meminimalisir risiko adanya penumpukan seroma dan hematoma pada dead space. Penggunaan sNPWT sebagai langkah profilaksis juga telah terbukti melalui berbagai meta-analisis mampu menurunkan kejadian komplikasi luka operasi dibandingkan perawatan standar, sekaligus membantu mengurangi lama rawat inap dan kebutuhan operasi ulang, sehingga menurunkan beban biaya kesehatan.
Berbagai pedoman internasional, termasuk dari WHO (World Health Organization) dan WUWHS (World Union of Wound Healing Society), merekomendasikan penggunaan NPWT terutama pada pasien atau prosedur operasi dengan risiko tinggi terjadinya komplikasi. Di Jepang, sNPWT awalnya disetujui untuk luka terbuka (open wound) yang sulit sembuh dan kemudian diperluas penggunaannya untuk luka operasi tertutup berisiko tinggi infeksi (closed surgical wounds in patients at high SSI risk).
Terdapat peningkatan minat dalam penggunaan NPWT pada kasus surgical closed incision untuk mencegah komplikasi luka yang terus berlanjut setelah operasi meskipun ada kemajuan dalam tindakan pencegahan infeksi.
Nherera (2018) melakukan studi untuk memperkirakan efektivitas biaya sNPWT dilakukan pembandingan dengan perawatan standar pada pasien setelah prosedur CABG untuk mengurangi SSC (dehisens dan infeksi sternotomi).
Studi klinis melaporkan peningkatan luka yang sembuh tanpa komplikasi sebanyak 37/40 (92,5%) pada penggunaan sNPWT dibandingkan dengan 30/40 (75%) pasien pada kelompok perawatan standar (p = 0,03). Perkiraan biaya rata-rata per pasien adalah €19.986 untuk sNPWT dibandingkan dengan €20.572 untuk perawatan standar, dimana terdapat penghematan biaya sebesar €586 pada penggunaan sNPWT.
Simpulan:
Penggunaan sNPWT dapat dianggap sebagai intervensi penghematan biaya yang mengurangi SSC setelah operasi CABG dibandingkan dengan perawatan standar. Dimana CABG merupakan salah satu jenis prosedur paling tinggi berisiko terjadinya SSC, terutama dehisens dan infeksi sternotomi.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato elements)
Referensi:
- Takagi K, Wee YR, Fujita N, Ng A, Francis-Graham S, Seno A. Knowledge, Attitudes and Practices of Japanese Cardiovascular Surgeons on the Management of Surgical Site Complications and Prophylactic Single-Use Negative Pressure Wound Therapy After Coronary Artery Bypass Surgery: A Quantitative Survey. Cureus. 2025 Jul 8;17(7):e87497. doi: 10.7759/cureus.87497.
- Nherera LM, Trueman P, Schmoeckel M, Fatoye FA. Cost-effectiveness analysis of single use negative pressure wound therapy dressings (sNPWT) compared to standard of care in reducing surgical site complications (SSC) in patients undergoing coronary artery bypass grafting surgery. J Cardiothorac Surg. 2018 Oct 3;13(1):103. doi: 10.1186/s13019-018-0786-6.