Abortus imminens dan keguguran merupakan komplikasi umum pada awal kehamilan dengan angka kejadian sekitar 5%–22%. Kondisi ini dapat berdampak signifikan secara fisiologis dan psikologis bagi ibu. Etiopatogenesisnya belum sepenuhnya dipahami dan bersifat multifaktorial. Abortus imminens ditandai dengan perdarahan pervaginam, aktivitas jantung janin yang masih ada, serta serviks yang tertutup, dan merupakan penyebab non-traumatik tersering perdarahan trimester pertama. Perdarahan diduga berkaitan dengan gangguan vaskularisasi desidua di antarmuka ibu–janin, yang kadang tampak sebagai hematoma subkorionik pada ultrasonografi; jika luasnya melebihi 25% kantung gestasi, risiko kehilangan kehamilan meningkat. Tata laksana kondisi ini masih menjadi tantangan karena penyebabnya sering kali tidak jelas. Progesteron dan turunannya sering digunakan, namun jenis, rute, dan durasi terapi optimal masih terus diteliti. Tinjauan ini mengevaluasi efektivitas dan penggunaan klinis progestogen dalam penatalaksanaan perdarahan kehamilan awal, abortus imminens, dan keguguran berulang.
Progesteron merupakan hormon steroid esensial yang berperan penting dalam mempertahankan kehamilan serta sebagai prekursor biosintesis steroid lain. Dalam praktik klinis, progesteron digunakan untuk berbagai indikasi, termasuk kontrasepsi, terapi hormon, pencegahan persalinan prematur, dan penatalaksanaan keguguran. Pada awal kehamilan, progesteron diproduksi oleh korpus luteum hingga usia kehamilan 8 minggu, kemudian produksi beralih secara bertahap ke plasenta dan sepenuhnya diambil alih oleh plasenta setelah minggu ke-12. Progestogen mencakup progesteron alami dan analog sintetik yang bekerja melalui reseptor progesteron untuk mendukung implantasi, menghambat kontraksi miometrium, dan memodulasi respons imun. Defisiensi progesteron, termasuk akibat gangguan fase luteal atau insufisiensi korpus luteum, berhubungan dengan keguguran dini, dan suplementasi progesteron terbukti dapat memperbaiki klinis kehamilan. Kadar progesteron serum yang rendah pada trimester pertama juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keguguran. Progesteron dapat diberikan secara oral, intramuskular, atau vaginal, dengan rute vaginal sering dipilih karena bioavailabilitas yang lebih baik dan efek lokal yang optimal. Progestogen tersedia dalam bentuk alami seperti progesteron mikronisasi maupun bentuk sintetik seperti didrogesteron, yang keduanya digunakan dalam penatalaksanaan abortus imminens dan keguguran berulang.
Keguguran didefinisikan sebagai kehilangan kehamilan secara spontan sebelum usia kehamilan 22 minggu, yang umumnya disertai perdarahan pervaginam dan nyeri panggul, sedangkan abortus imminens ditandai oleh perdarahan dan nyeri panggul dengan janin yang masih hidup serta kanalis servikalis tertutup. Angka keguguran dilaporkan sekitar 19,7%, dengan faktor risiko meliputi usia ibu lanjut, kelainan imunologis seperti sindrom antifosfolipid, gangguan hormonal, paparan lingkungan, diabetes melitus, dan sindrom ovarium polikistik. Risiko keguguran paling rendah ditemukan pada usia ibu sekitar 27 tahun dan meningkat hingga empat kali lipat setelah tiga keguguran berturut-turut, sementara keguguran berulang sering dikaitkan dengan kelainan kromosom orang tua dan faktor genetik. Sebagian besar keguguran terjadi pada trimester pertama, terutama sebelum usia kehamilan 12 minggu, dengan penurunan risiko yang signifikan setelah 14 minggu; pada kasus perdarahan awal kehamilan, bertambahnya usia kehamilan umumnya berkaitan dengan prognosis yang lebih baik. Riwayat perdarahan pada kehamilan pertama juga meningkatkan risiko perdarahan pada kehamilan berikutnya, dan keguguran berulang, yang didefinisikan sebagai tiga atau lebih kehilangan kehamilan berturut-turut, menjadi fokus banyak penelitian terkait peran suplementasi progesteron dalam memperbaiki hasil kehamilan.
Penggunaan progesteron pada keguguran diawali dengan penentuan jenis keguguran berdasarkan status serviks dan viabilitas janin, di mana abortus imminens ditandai oleh kanalis servikalis tertutup dan aktivitas jantung janin yang masih ada. Keguguran menimbulkan dampak fisik dan psikologis yang signifikan, termasuk peningkatan risiko gangguan emosional. Berbagai uji klinis dan meta-analisis menunjukkan bahwa progesteron dapat menurunkan angka keguguran, terutama pada abortus imminens dan perempuan dengan riwayat keguguran berulang atau perdarahan awal kehamilan. Didrogesteron oral dan progesteron mikronisasi vaginal terbukti lebih efektif dibandingkan tata laksana konservatif atau plasebo. Sebaliknya, 17-α-hidroksiprogesteron kaproat (17-OHPC) tidak terbukti efektif dan berpotensi menimbulkan risiko, sehingga tidak dianjurkan penggunaannya pada abortus imminens.
Kesimpulan:
Suplementasi progesteron berpotensi menurunkan risiko keguguran pada abortus imminens, perdarahan awal kehamilan, dan keguguran berulang, dengan pilihan jenis dan pemberian terapi yang perlu disesuaikan berdasarkan riwayat obstetri, kondisi klinis, serta temuan ultrasonografi pasien.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato elements Gen AI)
Referensi:
- Taskıran D, Kolsuz S. A review of the effect of progesterone use on miscarriage in early pregnancy bleeding. Cerasus Journal of Medicine. 2025;2(2):80-4.
- Coomarasamy A, Devall AJ, Brosens JJ, Quenby S, Stephenson MD, Sierra S, et al. Micronized vaginal progesterone to prevent miscarriage: a critical evaluation of randomized evidence. AJOG. 2019; 2019; 167-76.