Dry eye disease (DED) merupakan salah satu masalah kesehatan global yang sering ditemukan. DED didefinisikan sebagai penyakit multifaktorial pada permukaan okular yang ditandai dengan penurunan kemampuan homeostasis lapisan air mata (tear film), gejala okular yang disebabkan oleh instabilitas dan hiperosmolaritas lapisan air mata, inflamasi dan kerusakan permukaan okular, serta abnormalitas neurosensorik. Salah satu penyebab dari DED adalah adanya stres oksidatif, di mana stres oksidatif dapat menyebabkan kerusakan pada sel epitel konjungtiva dan memicu kehilangan sel goblet, yang berperan penting dalam produksi mucin pada lapisan air mata, sehingga menyebabkan DED.
Manajemen DED bertujuan untuk mengembalikan homeostasis permukaan okular dan lapisan air mata dengan menurunkan inflamasi. Lutein adalah karotenoid larut lemak yang dapat diperoleh dari makanan seperti sayuran hijau dan kuning telur. Lutein memiliki efek antioksidan dan antiinflamasi seperti mencegah serangan jantung, sindrom metabolik, dan degenerasi makula. Beberapa uji klinik serta uji pre-kllinik telah menginvestigasi kaitan suplementasi lutein terhadap DED dan sekresi air mata.
Telaah sistematis ini dilakukan untuk mengevaluasi efek dari lutein terhadap DED pada manusia. Telaah sistematis mengevaluasi 6 uji klinik acak tersamar (randomized controlled trial) yang menginvestigasi efek suplementasi lutein terhadap DED, yang melibatkan total 584 subjek. Kelompok studi menerima suplementasi lutein selama 4–12 minggu, dan kelompok kontrol menerima placebo. Dosis lutein yang diberikan berkisar antara 3 mg/hari hingga 20 mg/hari, dan pada studi-studi ini lutein diberikan bersamaan dengan suplemen lain di antaranya asam lemak omega-3, DHA, anthocyanin, zexanthin, dan beberapa vitamin seperti vitamin C, E, dan mineral seperti zinc dan selenium. Luaran yang dinilai dari uji klinis tersebut yaitu skor ocular surface disease index (OSDI), dry-eye-related quality of life score (DEQS) dan standard patient evaluation of eye dryness questionnaire (SPEED), serta luaran objektif seperti Schirmer’s test dan tear break-up time (TBUT), serta corneal conjunctival staining.
Studi oleh Kan, et al., Liu, et al., dan Radkar, et al., menunjukkan bahwa ada peningkatkan tear break-up time (TBUT) secara signifikan pada kelompok yang menerima suplementasi lutein. Kan, et al., menemukan bahwa terdapat peningkatan TBUT dari 7,97 detik menjadi 8,69 detik pada kelompok yang menerima 6 mg lutein selama 90 hari dibandingkan kelompok plasebo. Hasil penelitian oleh Radkar, et al., dan Kaan, et al., juga menemukan adanya peningkatan persentase subjek dengan hasil Schirmer’s test >10 mm pada kelompok studi. Selain itu, Radkar, et al., juga menemukan penurunan corneal staining pada kelompok yang diberikan suplementasi lutein. Lima dari enam studi yang dievaluasi pada telaah sistematis ini juga menemukan adanya perbaikan gejala DED secara signifikan yang ditunjukkan dengan perbaikan skor OSDI, DEQS, dan SPEED pada kelompok yang menerima suplementasi lutein dibandingkan dengan kelompok plasebo.
Kesimpulan:
Suplementasi lutein terbukti memperbaiki gejala dan tanda DED yang dilihat dari perbaikan TBUT, Schirmer’s test, dan corneal staining, serta skor gejala subjektif yang dinilai melalui OSDI, SEQS, dan SPEED.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: rawpixel-Freepik)
Referensi:
1. Wolffsohn JS, Benítez-del-Castillo JM, Loya-Garcia D, Inomata T, Iyer G, Liang L, et al; TFOS Collaborator Group. TFOS DEWS III diagnostic methodology. Am J OphThalmol. 2025;279:387–450. doi:10.1016/j.ajo.2025.05.033.
2. Chu YC, Huang CC. Role of lutein supplements in the management of dry eye syndrome: a systematic review. Int J. Vitam. Nutr. Res. 2025;95(1):35526.