Nyeri punggung bawah (low back pain/LBP) adalah salah satu gangguan kesehatan yang paling banyak terjadi, dengan prevalensi global mencapai 38,9%. Nyeri punggung bawah lebih banyak ditemukan pada wanita, dan dewasa usia 40-80 tahun. Berdasarkan durasinya, nyeri punggung bawah dapat dibagi menjadi akut (< 6 minggu), atau kronik (> 3 bulan). Nyeri punggung bawah akut didasari oleh mekanisme nyeri nosiseptif, yang melibatkan peradangan pada sendi tulang belakang. Suatu uji klinis mengevaluasi efektivitas kombinasi ibuprofen dan paracetamol dengan ibuprofen monoterapi untuk tata laksana nyeri punggung bawah akut.
Nyeri punggung bawah merupakan salah satu kondisi yang menyebabkan work loss tinggi dan menjadi salah satu masalah kesehatan dunia. Oleh karena itu, penanganan nyeri punggung bawah yang optimal perlu diterapkan. Pendekatan multimodal analgesa merupakan salah satu strategi yang digunakan dalam tata laksana nyeri punggung bawah, karena mengombinasikan obat dengan mekanisme kerja berbeda untuk memperoleh efek analgesik yang lebih baik, tanpa meningkatkan dosis obat nyeri. Salah satu kombinasi yang dapat digunakan dalam tata laksana nyeri punggung bawah adalah kombinasi obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) dan paracetamol.
Suatu telaah sistematis oleh Cao, et al., menunjukkan bahwa kombinasi OAINS seperti ibuprofen dengan paracetamol efektif dalam menurunkan nyeri pada pasien dengan nyeri punggung bawah dan pasien dengan osteoartritis. Ibuprofen bekerja dengan menghambat COX, sehingga memberikan efek analgesik dan anti-inflamasi, sedangkan paracetamol memiliki efek analgesik sentral. Kombinasi ini dapat memberikan kontrol nyeri yang baik, terutama pada nyeri punggung bawah akut ketika inflamasi menyebabkan spasme dan gangguan mobilitas lumbar.
Suatu uji klinis oleh Ostojic, et al., mengevaluasi efektivitas kombinasi ibuprofen dan paracetamol dengan ibuprofen monoterapi untuk tata laksana nyeri punggung bawah akut (acute low back pain). Studi ini melibatkan 80 pasien dewasa dengan nyeri punggung bawah akut, atau eksaserbasi akut dari nyeri punggung bawah kronik. Pasien diacak untuk mendapatkan kombinasi ibuprofen 200 mg dan paracetamol 325 mg (n=40) ibuprofen tunggal 400 mg (n=40). Luaran yang dinilai dari studi ini adalah intensitas nyeri yang dinilai dari penurunan skor VAS (Visual Analog Scale), mobilitas lumbar dinilai dari tes finger-to-floor dan skor disabilitas yang dinilai melalui Quebec Back Pain Disability Score (QBPDS), pada hari ke-4 dan 10 setelah terapi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok yang mendapatkan kombinasi ibuprofen dan paracetamol memiliki skor nyeri yang secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan ibuprofen tunggal, pada hari ke-4 (rerata skor VAS 28,1 vs 36,3). Mobilitas lumbar juga lebih baik secara signifikan pada kelompok ibuprofen dan paracetamol dibandingkan dengan kelompok ibuprofen, yang dinilai melalui jarak finger-to-floor (4,7 cm vs 8,3 cm). Penurunan skor disabilitas (skor QBPDS) juga secara signifikan lebih baik pada kelompok kombinasi ibuprofen dan paracetamol dibandingkan dengan kelompok ibuprofen tunggal, pada hari ke-4 (23 vs. 34,1) dan hari ke-10 (17 vs 26,2). Kombinasi OAINS seperti ibuprofen dengan paracetamol untuk menurunkan nyeri pada nyeri punggung bawah memiliki profil keamanan yang baik, dan tidak meningkatkan risiko efek samping dibandingkan dengan monoterapi OAINS.
Kesimpulan:
Dari uji klinis ini, kombinasi ibuprofen dan paracetamol lebih efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dan memperbaiki mobilitas lumbar dibandingkan monoterapi ibuprofen pada pasien dengan nyeri punggung bawah akut, dan memilki profil keamanan yang baik.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: YuriArcursPeopleimages-Envato element)
Referensi:
1. Cao Z, Han K, Lu H, Illangamudalige S, Shaheed CA, Chen L, et al. Paracetamol combination therapy for back pain and osteoarthritis: a systematic review and meta-analyses. Drugs. 2024, 84:953-67.
2. Ostojic P, Radunovic G, Lazovic M, Tomanovic-Vujadinovic S. Ibuprofen plus paracetamol versus ibuprofen in acute low back pain: a randomized open label multicenter clinical study. Acta Reumatol Port. 2017;42:18-25