Detail Article

Kombinasi Maltodekstrin dan Nutrisi Enteral Dini Mempercepat Pemulihan Pasien Kanker Kolorektal

dr. Dedyanto Henky Saputra, M.Gizi, AIFO-K
Feb 11
Share this article
fa312adbc333f98d2dcd92ff31e3ebb4.jpg
Updated 11/Feb/2026 .

Kanker kolorektal (CRC) merupakan salah satu keganasan yang paling umum terjadi pada sistem pencernaan secara global. Selain karena sel kanker, pembedahan itu sendiri memicu respons stres metabolik yang signifikan, yang sering kali menyebabkan resistensi insulin dan pemecahan protein tubuh (katabolisme). Suatu penelitian dilakukan mengevaluasi apakah kombinasi pemberian karbohidrat oral preoperasi (POC) dan nutrisi enteral dini pascaoperasi (EEN/early enteral nutrition) memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan perawatan standar.


Secara tradisional, protokol bedah mewajibkan puasa jangka panjang sebelum operasi. Namun, pendekatan modern melalui protokol Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) mulai mengalihkan fokus pada intervensi nutrisi dini. Penelitian berikut bertujuan untuk mengevaluasi apakah kombinasi pemberian karbohidrat oral preoperasi (POC) dan nutrisi enteral dini pascaoperasi (EEN/early enteral nutrition) dapat memberikan hasil yang lebih baik dalam mempercepat pemulihan, menjaga status gizi, dan menekan respons inflamasi dibandingkan dengan perawatan standar. Penelitian ini dirancang sebagai studi prospektif, acak, terkontrol, dan bersifat multicentre.

 

Alur penelitiannya adalah:

1.     Rekrutmen Subjek: Pasien yang didiagnosis kanker kolorektal dan dijadwalkan untuk menjalani operasi radikal direkrut berdasarkan kriteria inklusi yang ketat.

2.     Randomisasi: Pasien dibagi secara acak ke dalam 2 kelompok:

o   Kelompok A (n=110): menerima larutan maltodekstrin (karbohidrat oral) 2–3 jam sebelum operasi (400 mL) dan diberikan nutrisi enteral (oral atau sonde) yang diberikan setiap 2-3 jam dalam 24 jam pasca-operasi (target kalori harian dari ONS adalah 400-500 kkal).

o   Kelompok B (n=110): hanya menerima larutan maltodekstrin (karbohidrat oral) 2–3 jam sebelum operasi.

o   Kelompok C/Kontrol (n=111): mengikuti protokol puasa standar preoperasi dan memulai nutrisi pasca-operasi sesuai instruksi klinis konvensional (biasanya menunggu kembalinya fungsi usus/flatus).

3.     Parameter Pengukuran:

Data dikumpulkan pada beberapa titik waktu (sebelum operasi, hari ke-1, ke-3, dan ke-7 pasca-operasi). Parameter yang diukur meliputi penanda nutrisi (albumin, pre-albumin), fungsi imun (limfosit, sel T), penanda inflamasi (CRP), dan indikator pemulihan klinis (waktu flatus pertama, durasi rawat inap).

 

Hasil penelitian ini menunjukkan temuan-temuan kunci sebagai berikut:

a.   Pemulihan fungsi gastrointestinal yang lebih cepat: waktu hingga buang air besar pertama dan kelelahan secara signifikan lebih cepat pada kelompok A dibandingkan dengan kelompok B dan C.

b.  Pemeliharaan status nutrisi: total protein (TP) memiliki waktu paruh yang lebih pendek dan kurang terpengaruh oleh stres akut, sehingga memberikan gambaran yang lebih stabil mengenai efektivitas intervensi nutrisi. Dalam 3 hari pasca-operasi, tidak ada perbedaan yang signifikan pada nilai TP di antara kelompok A, B, dan C, tetapi 1 minggu pasca-operasi, nilai TP kelompok A secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok B dan C. Pada kedua titik waktu tersebut, tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik dalam kadar pALB (prealbumin) atau ALB (albumin) di antara ketiga kelompok pasca-operasi.

c.   Penurunan respons inflamasi: penurunan indikator IL-6 pada kelompok A secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan kelompok B dan C setelah hari ke-7 pasca-operasi.

d.   Fungsi imun: persentase limfosit T sebagai persentase dari limfosit secara signifikan jauh lebih tinggi pada kelompok A dibandingkan dengan kelompok B dan C mulai dari hari ke-3 pasca-operasi, tetapi tidak ada perubahan yang signifikan pada proporsi limfosit T-assisted/terinduksi, proporsi limfosit T-supressed, atau proporsi limfosit CD4+/CD8+.

e.   Pemulihan fungsi hati dan ginjal pasca-operasi: tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kadar ALT (alanine transferase), AST (aspartate aminotransferase), TBIL (bilirubin total), DBIL (bilirubin direk), BUN (basal urea nitrogen), atau Cr (kreatinin) di antara pasien pada hari ke-1, ke-3, dan ke-7 pasca-operasi, pada ketiga kelompok.

 

Hasil penelitian ini dapat memberikan landasan kuat bagi klinisi untuk menerapkan langkah-langkah praktis berikut:

  •  Hentikan Puasa Berkepanjangan

Terapkan pemberian minuman karbohidrat (maltodekstrin) 12,5% sebanyak 200–400 mL pada 2 jam sebelum induksi anestesi untuk mencegah resistensi insulin.

  • Inisiasi Nutrisi Enteral Dini

Jangan menunggu flatus atau suara bising usus untuk memulai asupan. Nutrisi enteral (baik oral maupun melalui sonde) sebaiknya dimulai dalam 12–24 jam pertama pasca-operasi jika kondisi hemodinamik stabil.

  • Monitoring Biokimia Berkala

Gunakan kadar pre-albumin sebagai indikator sensitif untuk memantau efektivitas dukungan nutrisi jangka pendek selama minggu pertama pemulihan.

  • Edukasi Multidisiplin

Penting untuk mengomunikasikan kepada pasien dan keluarga bahwa makan/minum dini setelah operasi aman dan justru mempercepat kepulangan mereka.

  • Personalisasi Nutrisi

Meskipun nutrisi dini disarankan, klinisi harus tetap melakukan penilaian individual, terutama pada pasien dengan risiko obstruksi tinggi atau komplikasi anastomosis yang kompleks.

 

Kesimpulan:

Kanker kolorektal merupakan salah satu keganasan yang paling umum terjadi pada sistem pencernaan secara global. Penelitian ini membuktikan bahwa kombinasi pemberian karbohidrat oral pra-bedah menggunakan maltodekstrin disertai dengan nutrisi enteral dini pasca-bedah secara signifikan mempercepat pemulihan pasien kanker kolorektal.

 


Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato element)

Referensi:

  1. He Z, Liu Y, Xu Q, Yang X, Zhou D, et al. Effect of preoperative oral carbohydrate combined with postoperative early enteral nutrition on the perioperative rehabilitation of patients with colorectal cancer: a multicenter randomized controlled trial. Front Nutr. 2025 Nov 28;12:1699541. doi: 10.3389/fnut.2025.1699541.
  2. Guida AM, Franceschilli M, Leonetti G, Bellato V, Brunella M. Pirrozi BM, et al. Pathophysiology of metabolic changes and malnutrition in colorectal cancer’s patients. AME Med J 2025;10:13. https://dx.doi.org/10.21037/a


Share this article
Related Articles