Penyakit arteri koroner atau coronary artery disease (CAD) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Dalam praktik klinis, penilaian apakah penyempitan arteri koroner telah menyebabkan gangguan perfusi miokard menjadi bagian penting dalam menentukan kebutuhan evaluasi dan tata laksana lebih lanjut. Myocardial perfusion imaging (MPI) berperan dalam membantu mengidentifikasi area miokard yang mengalami penurunan aliran darah.
Selama ini, single-photon emission computed tomography (SPECT) banyak digunakan untuk MPI, tetapi pemeriksaan ini tetap memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait resolusi gambar dan artefak atenuasi pada kelompok pasien tertentu. Positron emission tomography (PET) menawarkan kualitas pencitraan yang lebih baik serta kemampuan untuk menilai perfusi miokard secara lebih kuantitatif. Namun, pemanfaatannya secara luas masih dibatasi oleh karakteristik beberapa radiotracer PET.
Flurpiridaz dikembangkan untuk menjawab sebagian keterbatasan tersebut. Radiotracer ini menggunakan fluorine-18 dengan waktu paruh sekitar 110 menit dan memiliki ekstraksi serta retensi miokard yang tinggi, sehingga berpotensi memberikan kualitas gambar yang baik sekaligus mempermudah distribusi ke fasilitas pelayanan kesehatan. Flurpiridaz telah memperoleh persetujuan FDA untuk PET MPI dalam evaluasi iskemia dan infark miokard pada pasien dewasa dengan penyakit arteri koroner.
Flurpiridaz Menunjukkan Sensitivitas Lebih Tinggi Dibandingkan SPECT
Efikasi diagnostik flurpiridaz dievaluasi dalam studi fase III prospektif dan multisenter yang melibatkan 730 pasien dengan CAD dari 48 pusat penelitian di Amerika Serikat, Kanada, dan Eropa. Pasien menjalani pemeriksaan rest-stress flurpiridaz PET dan SPECT sebelum invasive coronary angiography (ICA), yang digunakan sebagai standar pembanding untuk mendeteksi stenosis koroner ≥50%. Sebanyak 578 pasien dapat dievaluasi dalam analisis utama.
Flurpiridaz PET memenuhi endpoint efikasi utama studi. Dibandingkan SPECT, sensitivitas untuk mendeteksi CAD secara signifikan lebih tinggi dengan flurpiridaz PET, yaitu 80,3% dibandingkan 68,7%, sementara spesifisitasnya memenuhi kriteria non-inferioritas, yaitu 63,8% dibandingkan 61,7%. Kemampuan diagnostik secara keseluruhan yang dinilai melalui area under the receiver-operating characteristic curve juga lebih tinggi secara signifikan dengan PET dibandingkan SPECT (0,80 vs 0,68).
Selain akurasi diagnostik, flurpiridaz PET memberikan kualitas gambar dan kepastian interpretasi yang lebih baik. Pemeriksaan ini juga lebih baik dalam menggambarkan luas dan derajat defek perfusi, suatu aspek penting karena SPECT dapat mengestimasi luas penyakit lebih rendah pada sebagian pasien. Profil keamanan flurpiridaz dalam studi fase III secara umum baik dan radiotracer dapat ditoleransi dengan baik.
Performa Flurpiridaz Tetap Konsisten pada Populasi yang Sulit
Keunggulan flurpiridaz juga terbukti pada kelompok pasien yang lebih sulit untuk dievaluasi dengan MPI. Pada wanita dan pasien dengan obesitas, kualitas pencitraan SPECT dapat lebih mudah dipengaruhi oleh attenuation artifact, sehingga interpretasi hasil pemeriksaan menjadi kurang optimal pada sebagian pasien.
Dalam analisis pada 188 wanita, flurpiridaz PET menunjukkan sensitivitas sebesar 82,9%, dibandingkan 65,9% dengan SPECT. Spesifisitasnya tetap sebanding, yaitu 72,8% dengan flurpiridaz PET dan 66,0% dengan SPECT. Selain itu, flurpiridaz PET memberikan kepastian interpretasi yang lebih tinggi serta kualitas gambar yang lebih baik. Hasil yang konsisten juga terlihat pada pasien dengan obesitas. Analisis menunjukkan bahwa performa diagnostik flurpiridaz tetap terjaga pada berbagai kategori indeks massa tubuh.
Membuka Akses Lebih Luas terhadap PET Perfusi Jantung
Flurpiridaz tidak hanya menawarkan peningkatan pada aspek diagnostik, tetapi juga berpotensi mengatasi salah satu keterbatasan praktis PET MPI. Waktu paruh flurpiridaz yang mencapai sekitar 110 menit memungkinkan distribusi radiotracer dari fasilitas produksi regional ke pusat pelayanan kesehatan yang lebih luas. Hal ini berbeda dengan beberapa radiotracer PET jantung dengan waktu paruh singkat yang membutuhkan fasilitas produksi atau generator khusus di lokasi pemeriksaan.
Karakteristik tersebut berpotensi memperluas penggunaan PET MPI untuk evaluasi pasien dengan CAD, termasuk pada populasi yang sulit dievaluasi dengan SPECT. Namun, pemilihan modalitas pencitraan tetap perlu mempertimbangkan ketersediaan PET, karakteristik pasien, indikasi klinis, pengalaman pusat pemeriksaan, serta akses terhadap radiotracer.
Flurpiridaz merupakan radiotracer PET MPI yang menunjukkan sensitivitas diagnostik lebih tinggi dibandingkan SPECT dalam mendeteksi penyakit arteri koroner, dengan spesifisitas non-inferior. Kualitas gambar dan kepastian diagnostiknya juga lebih baik. Waktu paruh flurpiridaz yang lebih panjang memungkinkan distribusi radiotracer secara regional dan penggunaan exercise stress testing, sehingga berpotensi memperluas akses terhadap PET MPI.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Envato elements)
Referensi:
- Maddahi J, Agostini D, Bateman TM, Bax JJ, Beanlands RSB, Berman DS, et al. Flurpiridaz F-18 PET myocardial perfusion imaging in patients with suspected coronary artery disease. J Am Coll Cardiol. 2023;82(16):1598-1610.
- Yu M, Nekolla SG, Schwaiger M, Robinson SP. The next generation of cardiac positron emission tomography imaging agents: discovery of flurpiridaz F-18 for detection of coronary disease. Semin Nucl Med. 2011;41(4):305-13.
- Horgan SJ, Heller GV, Maddahi J, Bateman TM, Bax JJ, Beanlands RSB, et al. Diagnostic performance of F-18 flurpiridaz in women: a sub-study of the aurora phase 3 trial. J Nucl Cardiol. 2026;58:102640.
- Patel KK, Maddahi J, Agostini D, Bax JJ, Beanlands RSB, Berman D, et al. Improved assessment of coronary artery disease in obese patients with flurpiridaz-18F positron emission tomography myocardial perfusion imaging: a prespecified subgroup analysis of the AURORA phase 3 study. J Nucl Cardiol. 2026;61:102741.