Meskipun diabetes tipe 2 merupakan penyebab paling umum dari PGK, lebih dari separuh kasus terjadi pada individu tanpa diabetes. Aktivasi berlebih dari reseptor mineralokortikoid adalah salah satu patofisiologi PGK melalui peningkatan retensi natrium dan cairan, serta aktivasi proses proinflamasi dan profibrotik. Finerenone adalah nonsteroid-mineralocorticoid receptor antagonist (ns-MRA) selektif yang telah terbukti memperlambat perburukan fungsi ginjal dan menurunkan risiko adverse outcome pada ginjal serta kardiovaskular pada pasien PGK dan diabetes tipe 2. Uji klinik FIND-CKD (Finerenone in Non-Diabetic CKD) meneliti efikasi dan keamanan finerenone pada orang dewasa tanpa diabetes yang mengidap PGK.
Dr. Heerspink beserta tim dari Eropa dan Amerika Serikat melakukan uji klinik acak multisenter yang mengevaluasi efikasi finerenone pada pasien PGK tanpa diabetes. Pasien yang dilibatkan dalam uji klinik ini adalah orang dewasa tanpa diabetes yang menderita PGK (estimasi laju filtrasi glomerulus [eGFR], 25 hingga <90 mL per menit per 1,73 m² luas permukaan tubuh) dan albuminuria (rasio albumin-kreatinin urin, 200 hingga ≤3.500 mg/g) serta sedang menggunakan renin–angiotensin system inhibitor. Pasien diacak untuk menerima finerenone (10 atau 20 mg setiap hari) atau plasebo. Parameter primer adalah kemiringan (slope) eGFR total (rerata tingkat perubahan tahunan eGFR dari awal hingga bulan ke-32). Parameter sekunder mencakup komposit kejadian kardiovaskular atau ginjal (penurunan setidaknya 57% eGFR dari awal).
Sebanyak 1.584 partisipan menjalani randomisasi — 793 orang dialokasikan ke kelompok finerenone, dan 791 orang ke kelompok plasebo. Rerata (±SD) eGFR awal adalah 46,8±16,2 mL per menit per 1,73 m² pada kelompok finerenone dan 46,6±16,0 mL per menit per 1,73 m² pada kelompok plasebo. Rerata tingkat perubahan tahunan eGFR dari awal hingga bulan ke-32 adalah −3,3 mL per menit per 1,73 m² (95% CI, −3,6 hingga −3,1) dengan finerenone dan −4,0 mL per menit per 1,73 m² (95% CI, −4,3 hingga −3,8) dengan plasebo (selisih 0,7; 95% CI, 0,3 hingga 1,1; p < 0,001). Risiko kejadian luaran komposit ginjal atau kardiovaskular lebih rendah dengan finerenone dibandingkan dengan plasebo (Hazard ratio 0,77; 95% CI, 0,60 hingga 0,99; p = 0,04).
Uji klinik ini menyimpulkan bahwa finerenone menghasilkan penurunan estimasi laju filtrasi glomerulus (eGFR) yang lebih lambat secara bermakna dibandingkan dengan plasebo pada orang dewasa dengan penyakit ginjal kronis (PGK) yang tidak menderita diabetes. Insiden komposit kejadian ginjal atau kardiovaskular tercatat lebih rendah pada pasien yang menerima finerenone dibandingkan pada mereka yang menerima plasebo.
Gambar: Ilustrasi (Sumber: Peakstock-Envato)
Refrensi:
- Webster AC, Nagler EV, Morton RL, Masson P. Chronic kidney disease. Lancet 2017; 389: 1238-52.
- Brenner BM, Cooper ME, de Zeeuw D, Keane WF, Mitch WE, Perving HH, et al. Effects of losartan on renal and cardiovascular outcomes in patients with type 2 diabetes and nephropathy. N Engl J Med 2001;345: 861-9.
- Bakris GL, Agarwal R, Anker SD, Pitt B, Ruilope LM, Rossing P, et al. Effect of finerenone on chronic kidney disease outcomes in type 2 diabetes. N Engl J Med 2020; 383: 2219-29.
- Heerspink HJL, Neuen BL, Agarwal R, Cherney DZI, Lam CSP, Tuttle KR, et al. Finerenone in persons with chronic kidney disease without diabetes. N Engl J Med. 2026 Aug 6;395(6):533-545.