Gummy Smile, Apakah itu dan Bagaimana Mengatasinya?
Friday, September 13, 2019

Gummy Smile, Apakah itu dan Bagaimana Mengatasinya?

Senyum merupakan ekspresi wajah yang paling menyenangkan dan kompleks. Senyum sendiri secara estetik terdiri dari 3 komponen yang mempengaruhi, yaitu gigi, gusi, dan bibir. Senyum yang atraktif tergantung pada proporsi yang sesuai dari 3 elemen ini. Bibir bagian atas harus simetris dan menunjukkan 3 mm gusi dan garis gusi harus mengikuti kontur bibir atas. Jika gusi terlihat lebih dari 3 mm, hal ini dikenal dengan istilah gingival atau gummy smile (GS).

Bagi sebagian orang, GS menunjukkan kelainan estetik dan membutuhkan beberapa metode koreksi seperti gingivaplasti, terapi orthodontic, hingga reseksi tulang. Prosedur-prosedur ini kompleks, membutuhkan biaya tinggi dan memakan waktu pemulihan yang lama. Sedangkan, jika menggunakan toksin botulinum memberikan metode yang lebih sederhana, cepat, dan efektif untuk koreksi GS.

Penelitian yang dilakukan selama 20 bulan pada 16 pasien dengan gummy smile diberikan injeksi BTXA (Botulinum Toxin Type A). Setelah diassess menggunakan foto terdapat 4 tipe GS yang dapat terlihat dan identifikasi otot yang terlibat:

1.  GS anterior dengan area yang terlihat lebih dari 3 mm di antara gigi taring (otot levator labii superioris alaeque nasi/LLSAN)

2.  Posterior GS yang menunjukkan lebih dari 3 mm gusi pada gigi taring posterior dengan pajanan normal di area anterior (otot zygomatic)

3.  GS campuran dengan gusi yang terpapar pada bagian anterior dan posterior yang melibatkan 2/lebih otot

4.  GS asimetris dengan menunjukkan gusi pada 1 sisi saja karena kontraksi asimetris otot LLSAN/zygomatic

Semua pasien mendapatkan terapi menggunakan toksin botulinum dan tidak ada yang memiliki kontraindikasi penyuntikan seperti kehamilan, penyakit neuromuskuler, atau penggunaan medikasi spesifik. BTXA yang digunakan adalah abobotulinum toxin A. Dosis yang digunakan ekuivalen dengan 2,5:1 U antara abobotulinum dengan onabotulinum. Sebelum injeksi pasien mendapat anestesi topikal menggunakan lidokain dan prilokain. Injeksi dilakukan menggunakan syringe 0,3 mL dan jarum 31G (8 mm) dan toksin disuntikkan pada area subkutan.

Kelompok 1 mendapat injeksi 2,5-5 IU tergantung derajat terlihatnya gusi pada masing-masing sisi kerutan nasolabial 1 cm lateral dan di bawah nasal ala untuk merelaksasi otot LLSAN. Kelompok 2 mendapat injeksi pada area malar dan otot zygomatic minor masing-masing 2,5 IU. Kelompok 3 mendapat injeksi abobotulinumtoxin pada posisi yang dijelaskan pada kelompok 1 dan 2 dan dosis dikurangi 50% pada area nasal ala. Kelompok 4 diinjeksikan dosis yang sama pada area yang terlihat Abobotulinum juga diinjeksikan pada area berlawanan namun pada titik terendah.

Pasien dianjurkan untuk tidak berbaring dan berolahraga atau memijat area injeksi 4 jam pertama setelah prosedur, dan 20-30 hari setelahnya pasien disarankan untuk kembali follow-up. Hasil diperiksa menggunakan pemeriksaan klinis dan fotografi. Area yang terlihat diukur sebelum dan sesudah aplikasi abobotulinum toksin.

Hasil penelitian menunjukkan penurunan derajat gusi yang terlihat pada semua pasien. Rata-rata perbaikan mencapai 75,09%. Dua pasien menunjukkan efek samping ringan yang dapat diperbaiki menggunakan penambahan dosis abobotulinum toksin.

Kesimpulan: Penting bagi klinisi untuk mengidentifikasi tipe gummy smile pada pasien dan otot yang terlibat sehingga dapat dilakukan koreksi yang sesuai. Toksin botulinum dapat digunakan sebagai salah satu alternatif perbaikan gummy smile yang lebih sederhana prosedurnya dan aman.

 

Image : Ilustrasi

Referensi:

1. Mazzuco R, Hexsel D. Gummy smile and botulinum toxin: A new approach based on gingival exposure area. J Am Acad Dermatol. 2010;63:1042-51.

2. Gill DS, Naini FB, Tredwin CJ. Smile aesthetics. SADJ 2008; 63(270):272-5.

3. Polo M. Botulinum toxin type A (Botox) for the neuromuscular correction of excessive gingival display on smiling (gummy smile). Am J Orthod Dentofacial Orthop 2008;133:195-203

 

Please login or register to post comments.