Detail Article
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement
Apr 26
Share this article
7e28ba881739600af8b1be7089316595.jpg
Updated 26/Apr/2022 .

Monoterapi metformin merupakan terapi awal yang direkomendasikan ketika modifikasi diet dan olahraga gagal mencapai target gula darah. Pada pasien yang target gula darahnya tidak tercapai dengan monoterapi metformin, dibutuhkan obat antidiabetik tambahan. Salah satu golongan obat antidiabetik yang paling sering dikombinasikan dengan metformin adalah sulfonilurea generasi kedua, yaitu glimepiride dan glibenclamide


Dengan cara kerja dan selektivitas dari glimepiride, glimepiride terkadang diklasifikasikan sebagai sulfonilurea ‘generasi ketiga’. Penelitian dilakukan bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan profil keamanan antara kombinasi terapi glimepiride 1 mg + metformin 500 mg dengan glibenclamide 5 mg + metformin 500 mg pada penderita DM tipe II yang tidak terkontrol dengan monoterapi metformin.

 

Metode

Penelitian ini mengikutsertakan pasien rawat jalan dari Chigateri Government Hospital dan Bapuji Hospital dari Januari 2016 – Juni 2017. Adapun kriteria inklusi subjek yang diikutsertakan antara lain:

1.  Penderita DM tipe 2 yang tidak terkontrol dengan metformin 1.000 mg.

2. Pasien berusia 40-50 tahun

3.. HbA1c >7%

4. Gula Darah Puasa (GDP) > 140 mg/dL

5. Pasien bersedia menandatangani informed consent dan bersedia untuk di-follow-up

Sementara itu, kriteria eksklusinya antara lain:

1. Alergi atau intoleran terhadap sulfonilurea

2. Pasien dengan gangguan ginjal, gangguan jantung, mengonsumsi alkohol, ibu hamil dan menyusui

3. Pasien dengan pengobatan DM lainnya, pasien yang membutuhkan rawat inap.

4. Pasien yang menarik kembali informed consent yang telah diberikan.


Penelitian ini merupakan penelitian komparatif prospektif open-label yang teracak. Terdapat 92 pasien yang memenuhi kriteria inklusi penelitian ini. Pasien diacak dalam jumlah yang setara untuk mendapatkan terapi sebagai berikut:

1. Kelompok A menerima FDC (fixed dose combination) glimepiride 1 mg + metformin 500 mg 1 kali sehari sebelum makan selama 3 bulan.

2. Kelompok B menerima FDC glibenclamide 5 mg + metformin 500 mg 1 kali sehari sebelum makan selama 3 bulan.


Semua pasien dilakukan follow-up setiap bulan sekali selama 3 bulan. Parameter yang diukur dalam penelitian adalah:

1.. GDP: setiap bulan

2. Gula Darah Postprandial (GDPP): setiap bulan

3. Berat badan (BB): setiap bulan

4. HbA1c: baseline dan setelah 3 bulan.

5. Efek samping: hipoglikemia, ruam kulit, flushing, mual, muntah, konstipasi, diare, sakit kepala, kesemutan, atau efek samping lainnya yang dilaporkan.

 

Hasil

Setelah 3 bulan terapi, HbA1c, GDP, GDPP, dan BB pada kedua kelompok terapi mengalami perubahan yang signifikan. Namun, penurunan HbA1C lebih signifikan pada kelompok yang mendapatkan terapi glimepiride+metformin (kelompok A) dibandingkan terapi glibenclamide+metformin (kelompok B) (MD: 1,44% vs. 0,89%; p<0,000). Selain itu, penurunan BB lebih signifikan pada kelompok A dibandingkan kelompok B (MD: 3,04 kg vs. 1,94 kg; p<0,007).


Dari segi efek samping, kejadian efek samping hipoglikemia lebih sedikit terjadi pada kelompok A dibandingkan kelompok B (10,87% vs. 19,57%; p=0,2480). Walaupun secara statistik tidak dapat dikatakan signifikan, namun secara klinis perbedaan kejadian tersebut cukup signifikan. Sementara itu, kejadian efek samping penambahan BB juga lebih sedikit terjadi pada kelompok A, yaitu 2 subjek (4,34%) dibandingkan kelompok B, yaitu 5 subjek (10,87%). Penurunan BB sebaliknya lebih banyak terjadi pada kelompok A, yaitu 41 subjek (89,13%) dibandingkan kelompok B, yaitu 40 subjek (86,95%).

 

Kesimpulan:

Terapi kombinasi metformin+glimepiride berhubungan dengan penurunan HbA1c dan berat badan yang lebih signifikan dibandingkan metformin+glibenclamide

 


Gambar: Ilustrasi (Freepik)

Referensi:

Reddy SK, Kumar S, Srinivas LD, Damodar RH, Shaik RA. Comparative efficacy and safety of glimepiride-metformin versus glibenclamide-metformin combination in type-2 diabetics uncontrolled with metformin alone. Int J Health Clin Res. 2021; 4: 61-5.

Share this article
Related Articles
Metformin dan Perubahan Gaya Hidup Bermanfaat untuk Anak dengan Obesitas dan Resistensi Insulin
dr. Lyon | 20 Jul 2022
Kombinasi Vitamin E dengan Atorvastatin Memperbaiki Sensitivitas Insulin dan Ekspresi PPAR-y Pasien DM Tipe 2
dr. Esther Kristiningrum | 28 Jun 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022