Detail Article
Ko-suplementasi Vitamin D dan Probiotik pada Wanita PCOS
dr. Josephine Herwita Atepela BC
Jun 21
Share this article
f9827dfd2c4b8e3255a1be484f88b0bf.jpg
Updated 21/Jun/2022 .

Kombinasi suplementasi (Kosuplementasi) vitamin D dan probiotik disebutkan memiliki manfaat pada kondisi kelainan metabolik, terutama pada pasien defisiensi vitamin D. Pemberian kombinasi keduanya dapat memperbaiki parameter kesehatan mental, biomarker inflamasi, dan stres oksidatif pada pasien sindrom metabolik. Studi lain yang memperkuat pendapat tersebut dilakukan oleh dr. Vahidreza Ostadmohammadi dari Research Center for Biochemistry and Nutrition in Metabolic Diseases, Kashan University of Medical Sciences, Kashan, Iran dan kolega, yang hasilnya telah dipublikasikan dalam Journal of Ovarian Research tahun 2019.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan studi acak tersamar ganda dan terkontrol plasebo terhadap 60 wanita dewasa dengan PCOS (polycystic ovary syndrome). Partisipan dibagi menjadi kelompok studi (n=30) yang diberikan 50.000 IU vitamin D setiap 2 minggu ditambah dengan probiotik 8 x 109 CFU/hari selama 12 minggu dan kelompok plasebo (n=30). Suplemen probiotik dengan dosis 2 x 109 CFU/gram mengandung Lactobacillus acidophilus, Bifidobacterium bifidum, Lactobacillus reuteri, dan Lactobacillus fermentum. Jenis dan dosis probiotik spesifik yang ideal untuk pasien PCOS belum diketahui.


Selama masa studi, tidak ditemukan adanya efek samping yang terjadi. Hasil intervensi selama 12 minggu menunjukkan perbaikan parameter kesehatan mental yang signifikan, di antaranya, beck depression inventory (BDI) (β -0,58; 95% CI, − 1,15, − 0,02; p=0,04), general health questionaire (GHD) (β – 0,93; 95% CI, − 1,78, − 0,08; p=0,03), dan depression anxiety and stress scale (DASS) (β – 0,90; 95% CI, − 1,67, − 0,13; p=0,02) dibanding plasebo.


Kosuplementasi vitamin D dan probiotik juga signifikan menurunkan kadar testosteron total (β – 0,19 ng/mL; 95% CI, − 0,28, − 0,10; p<0,001), hirsutisme (β – 0,95; 95% CI, − 1,39, − 0,51; p<0,001), high sensitivity C-reactive protein (hs-CRP) (β – 0,67 mg/L; 95% CI, − 0,97,− 0,38; p<0,001), dan kadar malondialdehyde (MDA) (β – 0,25 μmol/L; 95% CI, − 0,40, − 0,10; p=0,001). Selain itu, kosuplementasi keduanya juga signifikan meningkatkan parameter antioksidan, berupa peningkatan kapasitas antioksidan total (TAC) (β 82,81 mmol/L; 95% CI, 42,86, 122,75; p<0,001) dan peningkatan kadar glutathione (GSH) (β 40,42 μmol/L; 95% CI, 4,69, 76,19; p=0,02).


Berdasarkan studi ini, dapat disimpulkan bahwa kosuplementasi vitamin D 50.000 IU setiap 2 minggu dengan probiotik 8 x 109 CFU/hari selama 12 minggu memperbaiki profil kesehatan mental, kadar testosteron, hirsutisme, hs-CRP, TAC plasma, GSH, dan MDA, meskipun tidak berpengaruh terhadap SHBG serum, kadar NO pada plasma, jerawat, dan alopesia. Kosuplementasi ini juga aman karena tidak ditemukannya efek samping selama masa studi. Oleh karena itu, pemberian kosuplementasi ini dapat dipertimbangkan untuk wanita yang mengalami PCOS.



Gambar: Ilustrasi(sumber: https://www.cdc.gov/)

Referensi:

Ostadmohammadi V, Jamilian M, Bahmani F, Asemi Z. Vitamin D and probiotic co-supplementation affects mental health, hormonal, inflammatory and oxidative stress parameters in women with polycystic ovary syndrome. Journal of Ovarian Research. 2019;12(1).

Share this article
Related Articles
Kombinasi Vitamin E dengan Atorvastatin Memperbaiki Sensitivitas Insulin dan Ekspresi PPAR-y Pasien DM Tipe 2
dr. Esther Kristiningrum | 28 Jun 2022
Terapi Metformin-Glimepiride Menurunkan HbA1c dan Berat Badan yang Lebih Signifikan Dibandingkan Metformin-Glibenclamide
dr. Lyon Clement | 26 Apr 2022
Efektivitas ω-3 Krill Oil pada Pasien dengan Hipertrigliserida Berat
dr. Della Sulamita | 06 Apr 2022
Kadar Vitamin D3 Serum Berkorelasi Negatif Terhadap Resistensi Insulin
dr. Hasna Mardhiah | 01 Apr 2022
Terapi Jangka Panjang Dapagliflozin + Saxagliptin + Metformin Meningkatkan Proporsi Pasien yang Mencapai Target HbA1C
dr. Lupita Wijaya | 30 Mar 2022
Vitamin C dan E Bermanfaat pada Pasien DM Tipe 2 dengan Terapi Metformin
dr. Esther Kristiningrum | 22 Mar 2022
Penggantian Insulin NPH ke Glargine, Profil Glikemik Lebih Baik dengan Risiko Hipoglikemia Lebih Rendah pada Pasien DM Tipe 1 dan 2
dr. Lupita Wijaya | 23 Feb 2022
Saxagliptin secara Signifikan Menurunkan Glukosa Post-Prandial pada pasien Obesitas dengan Intoleransi Glukosa
dr. Lupita Wijaya | 02 Feb 2022
COVID-19 Dikaitkan dengan Peningkatan Risiko Diabetes pada Pasien Di bawah 18 tahun
dr. Hasna Mardhiah | 18 Jan 2022
Anemia Defisiensi Besi Mempengaruhi Prematuritas, Pertumbuhan Janin dan Infeksi Postpartum
dr. Josephine Herwita Atepela BC | 13 Jan 2022