Demam Neutropenia pada Pasien Kanker Payudara dengan Docetaxel, Bagaimana Mengatasinya?
Friday, February 14, 2020

Demam Neutropenia pada Pasien Kanker Payudara dengan Docetaxel, Bagaimana Mengatasinya?

Demam neutropenia merupakan efek samping yang sering dijumpai pada pasien kanker payudara yang mendapat docetaxel. Pasien yang mendapat regimen kemoterapi TC (docetaxel, cyclophosphamide), TJH (docetaxel, carboplatin, trastuzumab), dan TAC (docetaxel, cyclophosphamide, doxorubicin) berisiko tinggi mengalami demam neutropenia (>20%). Risiko demam neutropenia pada AC-T (doxorubicin, cyclophosphamide kemudian docetaxel) dan FEC-T (fluorouracil, epirubicin, cyclophosphamide kemudian docetaxel) adalah intermediate (10-20%).

 

Neutropenia adalah kondisi di mana jumlah neutrofil dalam darah menurun, sehingga dapat meningkatkan risiko infeksi, dan demam adalah salah satu gejalanya. Selain regimen kemoterapi, faktor lain yang juga meningkatkan risiko demam neutropenia adalah usia lanjut, stadium kanker yang lebih tinggi, status performa, dan nutrisi yang buruk.

 

Pemberian profilaksis seperti antibiotik dan granulocyte colony stimulating factor (GCSF) dapat menurunkan risiko demam neutropenia. Namun, penggunaan antibiotik berpotensi terjadinya resistensi bakteri dan efek samping. Pemberian GCSF lebih sering digunakan untuk menurunkan risiko demam neutropenia.

 

Durasi profilaksis GCSF adalah selama 4/5 hari atau 7 hari, yang sering dimulai dalam 5 hari setelah kemoterapi diberikan untuk menurunkan risiko demam neutropenia. Suatu studi kohort retrospektif dilakukan pada pasien kanker payudara yang mendapat docetaxel. Peneliti mengidentifikasi 3.916 pasien kanker payudara yang mendapat TC, AC-T, FEC-T, TJH, atau TAC dari database antara tahun 2014 dan 2016. Pasien diberikan GCSF dalam waktu 5 hari sejak diberikan docetaxel.

 

Hasilnya, pada regimen TC kejadian demam neutropenia pasien tanpa profilaksis primer 21,69%, profilaksis primer selama 4/5 hari 7,95% (OR 0,31; p< 0,001), dan profilaksis primer 7 hari adalah 5,33% (OR 0,20; p < 0,001). Pada regimen TJH, kejadian demam neutropenia pasien tanpa profilaksis primer 38,26%, profilaksis primer selama 4/5 hari 8,33% (OR 0,15; p < 0,001), dan profilaksis primer 7 hari adalah 8,57% (OR 0,15; p < 0,001).

 

Pada regimen AC-T, kejadian demam neutropenia pasien tanpa profilaksis primer dan profilaksis primer selama 4/5 hari adalah 20,93% dan 6,84% (OR 0,28; p= 0,005). Pada regimen FEC-T, kejadian demam neutropenia pasien tanpa profilaksis primer dan profilaksis primer selama 4/5 hari adalah 9,91% dan 4,77% (OR 0,46; p= 0,035). Hanya 3,27% kasus demam neutropenia yang tidak dirawat inap. Rerata durasi rawat inap pasien tanpa profilaksis primer 4,66 ± 2,60 hari, profilaksis primer selama 4/5 hari 4,37 ± 2,85 hari, dan profilaksis primer selama 7 hari adalah 5,12 ± 2,97 hari.

 

Kesimpulan dari studi ini adalah profilaksis granulocyte colony stimulating factor pada pasien kanker payudara yang mendapat docetaxel dapat menurunkan kejadian demam neutropenia. 

 

Image : Ilustrasi (a href="http://www.freepik.com">Designed by jcomp / Freepik</a>)

Referensi:

1. Lee CF, Zhou K, Young WM, Wong CS, Ng TY, Lee SF, et al. Febrile neutropenia and its associated hospitalization in breast cancer patients on docetaxel-containing regimen: A retrospective cohort study on duration of prophylactic GCSF administration. Support Care in Cancer 2019 doi: 10.1007/s00520-019-05111-6.

2. Smith TJ, Khatcheressian J, Lyman H, Ozer H, Armitage JO, Balducci L, et al. 2006 update of recommendations for the use of white blood cell growth factors: An evidence-based clinical practice guideline. J Clin Oncol. 2006;24:3187-205.

Please login or register to post comments.