Bleocin

Oleh Admin Kalbe Medical pada November 08, 2017 12:55

Apakah bahan aktif Bleocin?
Jawab:
Bleomycin.

Apa bentuk sediaan Bleocin?
Jawab:
Vial dalam bentuk serbuk 15 mg.

Untuk kondisi apa Bleocin bisa digunakan?
Jawab:
Bleocin dapat digunakan sebagai pengobatan pasien kanker kulit (termasuk kanker pada penis, buah zakar, dan vulva/bibir luar kemaluan wanita), kanker kepala dan leher (seperti kanker pada rahang atas, lidah, bibir, faring/kerongkongan, rongga mulut), kanker esofagus (saluran sebelum lambung), kanker leher rahim, limfoma maligna (keganasan pada kelenjar getah bening), dan efusi pleura karena keganasan (adanya cairan di selaput pembungkus paru).

Bagaimana cara kerja Bleocin?
Jawab:
Mekanisme kerja bleomycin belum diketahui secara pasti. Bleomycin diduga bekerja melalui hambatan sintesis DNA serta sintesis RNA dan protein, sehingga menghambat pembentukan sel kanker baru. Pemberian bleomycin secara intrapleura menyebabkan terbentuknya jaringan ikat pada permukaan pleura (selaput pembungkus paru-paru), sehingga terjadi penempelan antara pleura parietalis (bagian luar) dan viseralis (bagian dalam).

Bagaimana dosis Bleocin?
Jawab:
Dosis bleomycin yang diberikan tergantung pada cara pemberian, kegunaan, dan kondisi pasien:
Injeksi intramuskuler (ke dalam otot) atau subkutan (di bawah kulit): 15-30 mg
Injeksi intravena (ke dalam pembuluh darah): 15 – 30 mg
Injeksi Intrapleura (ke dalam selaput pembungkus paru): 30 – 60 mg
Frekuensi pemberian rata-rata sebanyak dua kali seminggu dan dapat disesuaikan tergantung kondisi pasien.

Pada kondisi apa Bleocin tidak boleh digunakan?
Jawab:
- Wanita hamil dan menyusui
- Infeksi paru akut atau penurunan fungsi paru yang nyata.
- Pasien yang alergi terhadap obat ini.

Apakah pasien dengan gangguan fungsi ginjal boleh diberikan Bleocin?

Jawab:
Tidak ada pedoman baku mengenai penyesuaian dosis, namun bleomycin harus digunakan dengan perhatian khusus pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal yang berat.

Apa saja efek samping yang mungkin terjadi jika menggunakan Bleocin?
Jawab:
Efek samping dapat berupa radang paru, terbentuknya jaringan parut di paru, nyeri lokal pada tempat suntikan, demam, penebalan dinding pembuluh darah vena di sekitar tempat suntikan, mual-muntah, sakit kepala, pening, anoreksia (kehilangan nafsu makan), diare, pollakiuria (sangat sering berkemih), sensasi urin tidak lampias, nyeri saat berkemih.
Konsultasikan dengan dokter Anda, apabila Anda mengalami efek samping ini.

Hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan sebelum, selama, dan sesudah penggunaan Bleocin?
Jawab:
1.Semua pasien harus dilakukan pemeriksaan paru sebelum dan sesudah diberikan Bleocin.
2.Saat diberikan secara intrapleura, lakukan langkah-langkah yang diinstruksikan oleh dokter.
3.Pemantauan terjadinya demam yang dapat dijumpai 4-5 jam setelah pemberian. Jika terasa sangat mengganggu, hubungi dokter Anda.
4.Pasien dianjurkan untuk tidak hamil dan menggunakan kontrasepsi selama terapi dan minimal 3 bulan setelah terapi.
5.Setelah menggunakan toilet, dudukan toilet ditutup dan disiram sebanyak 2 kali pada saat diberikan Bleocin dan sampai 48 jam setelah kemoterapi pada setiap siklus pemberian. Pasien pria dianjurkan buang air kecil dengan cara duduk dalam periode waktu tersebut.

Bagaimana penyimpanan Bleocin?
Jawab:
Bleocin yang belum dilarutkan harus disimpan pada suhu di bawah 30˚C, jauhkan dari pajanan sinar matahari secara langsung, dan disimpan dalam boksnya.

Pada kondisi seperti apa pasien harus segera menghubungi dokter?
Segera ke dokter jika setelah suntikan pasien mengalami demam yang terasa sangat mengganggu, muncul ruam pada kulit setelah suntikan, dan sesak napas hebat disertai demam dan batuk setelah suntikan.