Pospargin

Oleh Admin Kalbe Medical pada August 12, 2013 06:00


POSPARGIN


Komposisi:

Methylergometrine maleate.


Bentuk Sediaan:

Ampul methylergometrine maleate 0,2 mg.


Farmakologi:

Mempunyai efek langsung terhadap otot uterus yaitu meningkatkan tonus, amplitudo serta ritme kontraksi pada dosis yang rendah dengan merangsang adrenoreseptor, sehingga menyebabkan kontraksi uterus yang berulang dan diikuti fase relaksasi (fase istirahat). Sedangkan pada dosis yang besar methylergometrine maleate akan menyebabkan kontraksi tetanik uterus.

Methylergometrine maleate diabsorbsi cepat dan hampir sempurna, baik pada pemberian oral maupun intramuskular (IM) dan intravena (IV). Bioavailabilitas setelah pemberian per oral adalah 60% dan kadar puncak dicapai setelah 30 menit. Bioavailabilitas meningkat 78% jika diberikan secara intramuskular. Kadar maksimum plasma (Cmax) tercapai setelah 3 jam pemberian per oral. Methylergometrine maleate didistribusikan secara cepat dengan volume distribusi sekitar 0,33-0,67 liter/kg,  dimetabolisme di hepar dengan proses hidroksilasi dan  glukoronidasi. Ekskresinya terutama melalui empedu dan feses.


Indikasi:

Pencegahan dan pengobatan perdarahan pasca persalinan dan pasca abortus yang disebabkan oleh atonia uteri; pengobatan subinvolusi uterus; memperpendek kala III (diberikan setelah bahu depan janin lahir); sectio Caesarea, atau persalinan dengan tindakan.


Dosis:

- Pencegahan dan pengobatan perdarahan pasca persalinan dan pasca abortus yang disebabkan oleh atonia uteri. Dosis awal diberikan 0,2 mg methylergometrine maleate secara IM, biasanya efek kontraksi uterus terjadi 3-5 menit setelah pemberian. Pemberian secara IM dapat diulang setelah 2-4 jam, lalu terapi dilanjutkan per oral dengan dosis 0,125 mg methylergometrine maleate 3-4 kali per hari selama 2-7 hari. Penurunan dosis dapat dilakukan untuk mengatasi uterus yang kram (kejang). Pada keadaan darurat, misalnya syok, methylergometrine maleate dapat diberikan IV secara lambat dengan memonitor tekanan darah dan nadi.

- Untuk pengobatan subinvolusi uterus, dosis awal dapat diberikan secara IM maupun per oral tergantung keadaan pasien, dan dilanjutkan dengan pemberian per oral selama 2 sampai 7 hari.

- Memperpendek kala III (diberikan setelah bahu depan janin lahir). Diberikan jika sudah dipastikan bahwa kehamilan dengan janin tunggal, dan diberikan secara IM dengan dosis 0,2 mg methylergometrine maleate setelah bahu depan janin lahir.

- Sectio Caesarea, atau persalinan dengan tindakan. Setelah bayi dikeluarkan secara ekstraksi diberikan methylergometrine maleate 1 mL secara IM atau 0,5 ml-1 ml secara IV.


Kontraindikasi:

- Induksi persalinan. Uterus hamil sangat sensitif terhadap ergometrin ataupun methylergometrine maleate, yang dengan dosis kecil dapat menyebabkan kontraksi tetanik sehingga akan berpengaruh terhadap sirkulasi darah pada uterus dan plasenta serta fungsi respirasi janin.

- Hipertensi, termasuk hipertensi karena kehamilan (preeklampsia dan eklampsia). Methylergometrine dapat menyebabkan hipertensi secara mendadak.

- Abortus imminens

- Inersia uteri primer ataupun sekunder

- Kehamilan

- Hipersenstif


Peringatan dan Perhatian:

- Suntikan IV diberikan secara lambat, karena mungkin dapat menaikkan tekanan darah dan menyebabkan serangan serebrovaskuler. Bila penggunaan IV sangat diperlukan sebagai life-saving, berikan secara perlahan minimal 60 detik dengan pengawasan tekanan darah dan nadi.

- Pada persalinan dengan presentasi bokong (letak sungsang), methylergometrine maleate diberikan setelah bayi lahir, dan jika bayi kembar, methylergometrine maleate diberikan setelah bayi terakhir dilahirkan.

- Sepsis berat atau menetap.

- Pada neonatus, dilaporkan dapat menyebabkan sianosis perifer (kebiruan pada ujung-ujung jari dan bibir akibat kekurangan oksigen), gerakan mioklonus (kejang kelojot otot yang berulang), purpura (perdarahan multipel pada kulit atau selaput lendir), dan kematian.

- Penyakit kardiovaskuler. Hal ini berhubungan dengan efek vasokonstriksi dari ergot alkaloid secara umum, sehingga berpotensi untuk terjadinya gangguan pada pembuluh darah otak, serangan angina pektoris, atau terjadi gangren kering oleh karena suplai darah berkurang.

- Gangguan fungsi hepar dan ginjal yang berat.


Efek Samping:

- Pemberian dosis besar adalah gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah, diare. Hipertensi dapat timbul setelah pemberian secara intra vena dengan cepat. Dilaporkan pula timbulnya gangguan lain seperti nyeri kepala dan reaksi-reaksi kardiovaskuler seperti vertigo, takikardia atau bradikardia.

- Gejala yang timbul pada kelebihan dosis biasanya bersifat akut, mulai dari mual, muntah, diare, sampai kejang dan gangguan kesadaran.