Oleh Admin Kalbe Medical pada November 20, 2018 07:30

Erdosteine Menurunkan Inflamasi dan Eksaserbasi Berulang pada Pasien PPOK

Eksaserbasi merupakan penyebab bermakna dari morbiditas pada penyakit paru obstruksi kronik (PPOK). PPOK ditandai dengan episode eksaserbasi dengan variasi musiman, yang didefinisikan sebagai kejadian selama proses penyakit dengan gambaran perburukan gejala yang sering memerlukan perubahan terapi reguler pasien. Penyebab paling sering dari eksaserbasi akut PPOK adalah infeksi pernapasan dan polusi. PPOK mempunyai dampak kesehatan yang bermakna pada pasien, seperti percepatan penurunan fungsi paru, perburukan kualitas hidup, dan peningkatan mortalitas.

Mukolitik sebagai terapi tambahan untuk PPOK stabil dan eksaserbasi, telah digunakan untuk memperbaiki outcome penyakit pada pasien dengan eksaserbasi akut dari penyakit paru obstruksi kronik. Erdosteine telah disetujui untuk terapi penyakit paru akut dan kronik selama lebih dari 10 tahun dan telah menunjukkan efektif dalam terapi bronkitis dan PPOK stabil dan eksaserbasi.

Studi eksperimental telah menunjukkan aktivitas mukolitik dan penghambatan perlengketan bakteri pada mukosa jalan napas, aktivitas antioksidan, dan aktivitas antioksidan/antiinflamasi erdosteine pada PPOK stabil. Studi in vitro juga telah menunjukkan bahwa preterapi dengan erdosteine mempunyai efek antiinflamasi dengan menghambat aktivasi NF-kB yang diinduksi dengan lipopolisakarida, dan juga menghambay produksi IL-6 dan IL-1β.

Suatu studi juga telah dilakukan untuk meneliti efek erdosteine pada inflamasi sistemik, gejala, kekambuhan eksaserbasi, dan waktu hingga eksaserbasi pertama setelah keluar dari rumah sakit pada pasien dengan PPOK eksaserbasi akut. Dalam studi tersebut, pasien secara acak mendapat erdosteine 900 mg setiap hari (n=20) atau kontrol yang sesuai (n=20). Terapi diteruskan selama 10 hari hingga keluar dari rumah sakit. Pasien juga mendapat terapi standar dengan steroid, bronkodilator nebulisasi, dan antibiotik yang sesuai. Kadar CRP serum, fungsi paru, dan skala sesak-batuk-sputum dinilai saat masuk rumah sakit dan setelah 10 hari serta 30 hari pascaterapi. Kekambuhan PPOK eksaserbasi akut yang memerlukan antibiotik dan/atau steroid oral serta waktu hingga eksaserbasi pertama dalam 2 bulan (hari ke-30 dan 60) setelah keluar dari rumah sakit juga dinilai.

Hasilnya menunjukkan bahwa kadar CRP lebih rendah pada kedua kelompok setelah 10 dan 30 hari, dibandingkan saat masuk rumah sakit, dengan kadar CRP yang lebih rendah secara bermakna pada kelompok erdosteine dibandingkan dengan kelompok kontrol setelah 10 hari. Perbaikan skor gejala dan volume ekspirasi paksa dalam 1 detik lebih besar pada kelompok erdosteine dibanding kelompok kontrol, yang mencapai kemaknaan secara statistik setelah 10 hari. Erdosteine dikaitkan dengan risiko eksaserbasi 39% lebih rendah dan lebih lambat dalam waktu hingga eksaserbasi pertama (masing-masing log rank test p=0009 dan 0,075 setelah 30 hari dan 60 hari) dibanding kontrol.

Dari hasil studi tersebut disimpulkan bahwa penambahan erdosteine 900 mg/hari terhadap terapi standar memperbaiki outcome pada pasien PPOK eksaserbasi akut. Erdosteine dapat sangat bermanfaat pada pasien dengan kekambuhan, pemanjangan, dan/atau eksaserbasi berat PPOK. (EKM)

Referensi:

1.  Moretti M, Fagnani S. Erdosteine reduces inflammation and time to first exacerbation postdischarge in hospitalized patients with AECOPD. Dovepress 2015;2015;10(1):2319-25 DOI https://doi.org/10.2147/COPD.S87091

2.  Park JSPark MYCho YJLee JHYoo CGLee CTLee SM. Anti-inflammatory effect of erdosteine in lipopolysaccharide-stimulated RAW 264.7 Cells. Inflammation. 2016;39(4):1573-81. doi: 10.1007/s10753-016-0393-4.




Comments

Shehroz qasim
## Shehroz qasim
Friday, December 07, 2018 2:19 PM
ABC
ABC
Rahul sharma
## Rahul sharma
Monday, December 10, 2018 7:21 PM

Post Comment

Only registered users may post comments.