Oleh admin kalbemed pada July 04, 2018 06:00

Disfungsi Ereksi, Berkaitan dengan Kejadian Kardiovaskuler Masa Mendatang

Disfungsi ereksi (DE) vaskular dan penyakit kardiovaskular (PKV) memiliki beberapa faktor risiko serupa, seperti obesitas, hipertensi, sindrom metabolik, diabetes melitus, dan merokok. DE dan PKV juga memiliki mekanisme patologis serupa, yaitu disfungsi endotel, inflamasi, dan aterosklerosis.

Sebuah studi multi-etnis yang diberi nama MESA (Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis) mempelajari nilai DE self-reported untuk memprediksi insidens penyakit jantung koroner (PJK) dan PKV pada populasi bebas-kejadian-PKV pada baseline. Sejumlah 1.914 pria partisipan studi MESA mengisi pertanyaan tunggal Massachusets Male Aging Study untuk gejala-gejala DE. Partisipan tersebut dianggap menderita DE jika berespons “tidak pernah mampu” atau “kadang mampu” pada pertanyaan Massachusets Male Aging Study. Setelah mengeksklusi 155 partisipan dengan riwayat PKV sebelumnya, sebanyak 1.757 partisipan diikuti selama 3,8 tahun dan dinilai hasil akhir studi yaitu meliputi kejadian PJK dan PKV. Usia rerata dari 1.914 partisipan 69±9,2 tahun dan 42,3% diantaranya ras kulit putih, 24,2% ras Amerika-Afrika, 10,5% Amerika-Cina, dan 22,9% Hispanik.

Hasil dari studi tersebut, meliputi: gejala-gejala DE dilaporkan oleh 877 (45,8%) partisipan. Kejadian PKV meliputi semua kejadian PJK [penyakit jantung koroner] yaitu: (infark miokard, henti jantung yang diresusitasi, dan kematian PJK), ditambah stroke dan kematian stroke.

Partisipan dengan DE lebih cenderung menderita diabetes mellitus dan riwayat keluarga dengan PJK, lebih banyak yang menggunakan obat-obatan β-blocker, antihipertensif, penurun-lipid, dan antidepresan. Setelah 3,8 tahun follow-up, terdapat total 40 kejadian PJK dan 75 PKV. Proporsi yang lebih besar secara bermakna terjadi pada dari partisipan dengan DE yang mengalami kejadian PJK dan PKV dibandingkan partisipan tanpa DE (kejadian PJK: 3,4% banding 1,4%;  sedangkan kejadian PKV: 6,3% banding 2,6%).

Dengan hasil yang bermakna dan menetap setelah mengalami penyesuaian-penyesuaian, temuan studi ini memperkuat bukti ilmiah yang telah ada sebelumnya bahwa adanya hubungan independen antara DE dan insidens PKV, dengan kata lain  DE dapat menjadi prediktor independen PKV pada komunitas multietnis. Studi dengan penyempurnaan kriteria inklusi, metode dan durasi follow-up yang lebih lama (setidaknya 10 tahun) dapat mengkonfirmasi temuan ini.[JCB]

Image: Ilustrasi
Referensi:
1. Uddin SMI, Mirbolouk M, Dardari Z, Feldman DI, Cainzos-Achirica M, DeFilippis AP, et al. Erectile dysfunction as an independent predictor of future cardiovascular events: The Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis. Circulation. 2018:138 DOI: 10.1161/CIRCULATIONAHA.118.033990.
2. Feldman DI, Cainzos-Achirica M, Billups KL, DeFilippis AP, Chitaley K, Greenland P, et al. Subclinical Vascular Disease and Subsequent Erectile Dysfunction: The Multiethnic Study of Atherosclerosis (MESA). Clin Cardiol. 2016 May;39(5):291-8.
3. Shin D, Pregenzer G, Gardin JM. Erectile dysfunction: a disease marker for cardiovascular disease. Cardiol Rev 2011;19:5-11.

Related Articles

Terapi Adjuvan Probiotik Mencegah Rehospitalisasi Pasien dengan Mania Akut Pada pasien dengan penyakit mania terdapat hipotesis bahwa abnormalitas imunologi terlibat dalam patogenesis perubahan mood akut serta telah terbukti ...
Statin Jangka Panjang, Tidak Memberikan Dampak Bermakna pada Keluhan Saluran Cerna Obat golongan statin termasuk kedalam obat yang sering digunakan dan konsumsinya saat ini meningkat karena ACC (American College of Cardiology) dan AH...
Probiotik Menurunkan Kejadian Pneumonia pada Pemakaian Ventilator Pneumonia terkait ventilator (VAP/ Ventilator associated Penumonia) masih menjadi penyebab penting dari morbiditas dan mortalitas pasien-pasien yang m...
Vaksinasi Influenza pada Lansia, Mampu Mengurangi Risiko Kejadian Stroke Influenza adalah penyakit infeksi virus pada saluran napas atas dengan gejala demam, batuk, pilek dan sakit kepala. Penyakit ini adalah salah satu pen...
Konsumsi Kopi Bermanfaat untuk Kesehatan Organ Hati. Kopi adalah minuman kedua tersering yang paling populer di dunia setelah air putih dan telah dikonsumsi selama berabad-abad sebelumnya. Diketahui bahw...

Comments

There are currently no comments, be the first to post one.

Post Comment

Only registered users may post comments.