Oleh admin kalbemed pada June 11, 2018 06:00

Cara Mengantisipasi Risiko Fraktur pada Pemberian SGLT-2 Inhibitor

Sodium glucose-cotransporter (SGLT) 2 inhibitor bekerja menurunkan kadar gula darah pasien diabetes tipe 2 dengan cara menghambat penyerapan kembali (reabsorpsi) gula di bagian tubulus proksimalis ginjal. Obat ini menjadi kelas terbaru dalam pengobatan diabetes tipe 2. Obat dalam golongan ini yang telah dipasakan global antara lain canagliflozin, dapagliflozin dan empagliflozin.


Terdapat risiko efek samping dari pemberian obat ini. Salah satunya adalah risiko patah tulang atau fraktur. Dalam penelitian terbaru, efek samping ini ternyata bersifat class effect (potensi munculnya efek samping adalah sama bagi obat yang dalam satu golongan) dan dapat diantisipasi. Sebelumnya, FDA AS hanya memberikan peringatan potensi fraktur hanya pada pemberian canagliflozin. Namun sebenarnya hal yang sama terlihat pada pemberian dapagliflozin, dan baru-baru ini pada empagliflozin (berdasarkan studi EMPA-REG OUTCOME).


Penelitian tersebut melibatkan 25 relawan sehat dengan desain studi acak, crossover, dan tersamar tunggal. Canagliflozin diberikan dengan dosis 300 mg/hari selama 5 hari, namun setelah itu subjek mengalami peningkatan kadar fosfor dalam serum dan peningkatan fibroblast growth factor 23 (FGF-23) serta kadar hormon parathyroid  dalam plasma (PTH), diiringi dengan penurunan dari kadar 1,25-dihydroxyvitamin D. Kita ketahui bahwa jika terjadi hal seperti itu maka mengganggu kesehatan tulang dan berpotensi menyebabkan fraktur.

 

Dalam studi tersebut terdapat variasi dalam hal respons hormonal terhadap canagliflozin di antara 25 relawan yang dilibatkan. Sehingga sangat memungkinkan jika pasien DM tipe 2 yang memiliki penurunan terbesar kadar 1,25-dihydroxyvitamin D dan/atau peningkatan tertinggi dari PTH akan mengalami peningkatan risiko fraktur.

 

Hal tersebut memunculkan beberapa metode pencegahan yang dapat dicoba: segera melakukan penghentian terapi pada pasien berisiko tinggi; diberikan calcitriol bersama dengan terapi SGLT-2 inhibitor, untuk mengembalikan kadar 1,25-dihydroxyvitamin D ke normal; atau dilakukan pengukuran kadar 1,25 dihydroxyvitamin D sebelum diberikan SGLT-2 inhibitor sehingga jika ditemukan defisiensi maka disarankan untuk mengkonsumsi suplemen vitamin D.[PMP]

 


Image: ilustrasi

Referensi: Tucker ME. Hormonal mechanism could explain canagliflozin's fracture risk [Internet]. 2018 [cited 2018 May 29]. Available from: https://www.medscape.com/viewarticle/896650.

Related Articles

Menyusui Menurunkan Risiko Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Laktasi atau menyusui dapat mempengaruhi kesehatan metabolik wanit, seperti dilaporkan dalam beberapa studi bahwa wanita menyusui memiliki profil kard...
Injeksi Toksin Botulinum Meringankan Migrain Refrakter pada Anak Migrain merupakan penyakit dengan keluhan sakit kepala yang juga terjadi pada sekitar 60% anak-anak. Beberapa faktor risiko terjadinya migrain adalah ...
Efikasi dan Keamanan NSAID Topikal pada Osteoartritis Seperti yang sudah diketahui sebelumnya, OA (Osteoartritis) merupakan penyebab utama terjadinya nyeri, disabilitas dan meningkatkan biaya sosioekonomi...
Terapi Adjuvant Probiotik Mencegah Rehospitalisasi Pasien dengan Mania Akut Pada pasien dengan penyakit mania terdapat hipotesis bahwa abnormalitas imunologi terlibat dalam patogenesis perubahan mood akut serta telah terbukti ...
Adakah Manfaat Vitamin D pada Pasien Kritis ? Dalam suatu penelitian observasional selama 11 tahun pada pasien dengan penyakit kritis, hipovitaminosis D merupakan faktor risiko untuk menimbulkan t...

Comments

There are currently no comments, be the first to post one.

Post Comment

Only registered users may post comments.