Oleh admin kalbemed pada January 08, 2018 06:00

Lactobacillus reuteri ATCC 55730 Berpotensi Mengurangi Keluhan Kolik Bayi

Kolik pada bayi merupakan salah satu  masalah yang sering terjadi pada bayi usia kurang dari 3 bulan, keluhan ini mengenai sekitar 3% - 28%  dari bayi yang dilahirkan. Dari bukti yang ada, penyebab kolik pada bayi ini  bersifat multifaktorial; misalnya; sifat temperamen bayi,  interaksi antara ibu dan bayi yang tidak adekuat,  kecemasan pada ibu,  serta fungsi saluran cerna yang abnormal, defisiensi lactase yang bersifat sementara, serta faktor alergi misalnya: alergi terhadap susu formula, dsb.

Peningkatan kadar motilin maupun ghrelin  dalam darah sehingga  juga akan meningkatkan kejadian  kolik pada bayi pada ibu yang merokok. Dan tentunya satu hal  menarik disebutkan bahwa adanya penurunan jumlah populasi bakteri Lactobacillus pada  bayi-bayi yang mengalami kolik abdomen jika dibandingkan  dengan bayi-bayi yang sehat. Juga disebutkan  mungkin  adanya korelasi antara alergi dengan kejadian kolik pada bayi.

Dari studi yang ada menunjukkan bahwa, lactobacillus reuteri mampu menurunkan keluhan ataupun gejala kolik  pada bayi.  Pemberian probiotik termasuk Lactobacillus reuteri akan memodulasi sistem imun pada bayi, sehingga akan membantu perkembangan system imun bayi sehingga akan toleran terhadap alergan yang masuk ke dalam tubuh bayi, dan tentunya hipotesa adanya korelasi antara alergi dengan kejadian kolik pada bayi maka pemberian probiotik  dalam hal ini Lactoabcillus reuteri akan memperbaiki keluhan kolik tersebut.

Hipotesa tersebut dibuktikan dengaan sebuah studi klinis yang melibatkan sebanyak  90 bayi  dengan keluhan kolik abdomen.  Subyek mempunyai rentang usia 21 – 90 hari,  berat saat kelahiran  2500 gram – 4000 gram. Kriteria kolik abdomen yang diambil adalah; bayi menangis  lebih dari tiga jam, dan dengan frekuensi  lebih dari 3 hari dalam setiap minggunya. Selanjutnya subyek diacak dan dikelompokkan menjadi kelompok yang mendapat Lactobacillus reuteri ATCC 55730  108 CFU atau  atau simethicone sekali sehari selama 28 hari.

Hasil dari studi  tersebut  menunjukkan bahwa, pada kelompok bayi yang  mendapat Lactoabcillus reuteri terjadi penurunan waktu ataupun lama menangis, jika dibandingkan dengan kelompok  simethicone dimana tidak terjadi penurunan atau pengurangan waktu menangis.

Pada evaluasi hari ke-28 menunjukkan bahwa  95%  bayi  pada kelompok Lactobacillus reuteri memberikan respon perbaikan dan sebaliknya hanya 7% bayi dari kelompok yang mendapat simethicone yang mengalami perabaikan.

 Dari studi diatas menunjukkan bahwa suplemenatsi Lactoabcillus reuteri mampu mengurangi keluhan kolik abdomen  pada bayi, dan merupakan  agen terapi yang menjanjikan dengan profil keaman yang lebih baik menjadikan nilai tambah bagi  Lactobacillus reuteri. (Red)


Image: Ilustrasi
Referensi:
1. Savino F, pelle E, Palumeri  E. et al.  Lactobacillus reuteri ATCC 55730 versus Simethicone in the Treatment of Infantil Colic: A Prospective Randomized Study. Pediatrics 2007;119:e124-30.
2. Karla C. Lactobacillus reuteri lessens symptoms of infantile colic. AAP News  2007;28(4):2.

Comments

There are currently no comments, be the first to post one.

Post Comment

Only registered users may post comments.