Oleh admin kalbemed pada January 05, 2018 06:00

Probiotik Formulasi Dual Coating, Bermanfaat pada IBS

Sebuah studi dillakukan untuk menilai efek suplemen probiotik dual coating pada gejala IBS predominan diare (IBS-D) dalam metode uji klinik acak tersamar ganda dengan kontrol. Dalam studi tersebut melibatkan sebanyak 50 subjek dengan IBS-D yang dikelompokkan menjadi grup non-coating (n=25) atau kelompok dual coating (n=25), terapi diberikan 2 kapsul sehari probiotik multispesies yang mengandung 5x 10 pangkat 9 bakteri per 2 kapsul yang diberikan 2 jam setelah makan selama 4 minggu.

Probiotik dual coating merupakan probiotik yang mengandung multipel spesies bakteri hidup yaitu Lactobacillus acidophilus, L. plantarum, L. rhamnosus, Bifidobacterium breve, B. lactis, B. longum, dan Streptococcus thermophilus, dan bakteri tersebut secara formulasi dibentuk dalam  dual coating dengan peptida dan polisakarida untuk melindungi probiotik dari kerusakan karena asam lambung. kelompok pembanding mendapatkan genus bakteri yang sama namun tidak mendapatkan coating dan dikemas pada kapsul yang sama.

Dari studi tersebut, menunjukkan hasil bahwa;  tidak terdapat perubahan bermakna pada nilai antropometrik yagng terlihat setelah studi. Analisis pemeriksaan darah tidak menunjukkan perbedaan bermakna dari hitung sel darah antar kelompok, termasul sel darah putih, sel darah merah, hemoglobin, hematrokrit, trombosit, neutrofil, limfosit, monosit, dan eosinofil.      Marker penting pada inflamasi (iNOS, IL-10, dan TNFa) dari contoh darah yang diambil sebelum dan setelah studi juga dianalisis. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada marker tersebut pad akeluda kelompok katena perbedaan individual. Tidak ada perbedaan bermakna pada perbandingan antar kelompok maupun perbandingan pre-post intervensi.

Setelah intervensi selama 2 minggu, 76% subjek pada kelompok dual coating dan 36% pada kelompok non-coating mengatakan bahwa mereka mengalami pemulihan yang cukup dari gejala mereka, pada akhir uji klinik, kedua kelompok menunjukkan perbaikan bermakna pada gejala IBS mereka, dimana pemulihan gejala dicapai pada 64% pada kelompok non-coating and 72% dari kelompok dual coating. Namun perbedaan antar kelompok pada minggu ke-4 tidak bermakna (p=0,433).
 
Pada frekuensi defeksi, di luar variasi indvidu, secara umum frekuensi menurun pada kedua kelompok, khsusnya pada kelompok non-coating. Dibandingkan dengan baseline, kedua kelompok menunjukkan penurunan yang cepat selama minggu pertama studi. Namuan tidak ada perbedaan bermakna anatar kedua kelompok dalam frekuensi defekasi. Konsistensi/ bentuk feses tidak berbeda bermakna antar kedua kelompok. Porsi peningkatan feses yang normal bermakna pada kelompok dual coating setelah 3 minggu. Gejala secara keseluruhan membaik, namun tidak bermakna antar kelompok. Pasien pada kelompok non-coating menunjukkan perbaikan bermakna pada keenam gejala pada akhir studi, smenetara subjek pad akelompok dual coating menunjukkan perbaikan pada kembung, flatulen, urgensi, dan mukus pada feses, meskipun tampaknya tidak memperbaiki nyeri dan rasa tidak nyaman abdomen, urgensi defekasi, perasaan kembung dan mukus pada feses seara relatif membaik dibandingkan kelompok probiotik non-coating.
 
Sedangkan pada penilaian kualitas hidup, skor BDI disurvey pada minggu ke 0,2, dan 4. Perasaaan depresi menurun secara bermakna pada kedua kelompok, namun perbandingan antar kelompok tidak menunjukkan kemaknaan. Hanya Bifidobacterium yang meningkat bermakna pada kedua kelompok (dari 7,03- 7,78 pada kelompok non-coating; p <0,05. Dari 7,38-8,14 pada kelompok dualcoating; p <0,01). Peningkatan pada kelompok Lactobacillus setelah suplementasi probiotik, namun tidak terlihat perbedan bermakna (6,55 – 6,76 pada kelompok non-coating. Dari 6,76- 6,92 pada kelompok dual coating).
 
Dari hasil studi ini  tersebut peneliti menyimpulklan bahwa suplemen probiotik dual coating dapat digunakan sebagai kandidat untuk terapi IBS-D.



Image: Ilustrasi
Referensi:
1. Soares RL. Irritable bowel syndrome: a clinical review. World J Gastroenterol. 2014;20(34):12144-60. doi: 10.3748/wjg.v20.i34.12144.
2. Han K, Wang J, Seo JG, Kim H. Efficacy of double-coated probiotics for irritable bowel syndrome: a randomized double-blind controlled trial. J Gastroenterol. 2016. [Epub ahead of print]

Related Articles

Mouthwash Menggunakan Probiotik dapat Bermanfaat Mengontrol Terjadinya Plak Gigi dan Gingivitis Dalam sebuah literatur disebutkan bahwa dalam rongga mulut orang dewasa diperkirakan lebih dari 500 spesies dapat hidup dan berkoloni. Lebih jauh lagi...
Oligosakarida, Manfaat Lain Sebagai Laksatif Oligosakarida, selain mempunyai manfaat sebagai prebiotik, juga memberikan nilai tambah yang lain, salah satunya sebagai laksatif. Hasil penelitian me...
Benarkan Probiotik Mempunyai Efek Antioksidan? Probiotik didefinisikan sebagai mikroorganisme hidup yang jika dikonsumsi dalam jumlah tertentu memberikan manfaat  terhadap kesehatan pejamu.&nb...
EPA dan DHA Mampu Mempertahankan Sel CD4+ Pasien Kanker Payudara Cell-mediated immune response (IR) berperan penting pada imunoediting kanker. Sel T CD4+ dan CD8+ merupakan limfosit utama yang terlibat pada cell-med...
Anemia pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik Meningkatkan Risiko Terjadinya Stroke Hemoragik Berdasarkan penelitian terbaru yang dilakukan di Jepang, disimpulkan bahwa pasien dialisis yang mengalami anemia dengan kadar Hb 9,7 g/dL atau kurang ...

Comments

There are currently no comments, be the first to post one.

Post Comment

Only registered users may post comments.