Perlukah Suplementasi Coenzyme Q-10 (CoQ10) Pada Pasien Pengonsumsi Statin?
Thursday, December 5, 2019

Perlukah Suplementasi Coenzyme Q-10 (CoQ10) Pada Pasien Pengonsumsi Statin?

Coenzyme Q-10 (CoQ10), yang dikenal juga dengan sebutan uiquinone, adalah pro-vitamin endogen yang berperan penting dalam fungsi biokimia membran sel. Fungsi utama CoQ10 yaitu peranannya sebagai pembawa elektron dan proton untuk coupling energi. CoQ10 menyalurkan elektron dan proton untuk membentuk sebuah gradien elektrik pada membran sel yang kemudian akan mengaktifkan pembentukan adenosine triphosphate (ATP). 

Obat penurun kolesterol golongan hydroxymethylglutaryl-coenzyme A (HMG-CoA) reductase inhibitors atau statin mencegah pembentukan kolesterol dengan menghambat jalur HMG-CoA dan mevalonate. CoQ10 dibentuk di semua sel dari mevalonate dan tirosin, dan merupakan salah satu produk akhir dari jalur mevalonate. Maka, dengan penghambatan jalur mevalonate, tidak hanya pembentukan kolesterol yang berkurang, namun juga pembentukan CoQ10. Ditemukan bahwa konsentrasi CoQ10 secara langsung berhubungan dengan konsentrasi LDL. 

Suplementasi CoQ10 diketahui dapat meningkatkan konsentrasi CoQ10 meskipun terapi statin dilanjutkan. Namun, terdapat perhatian di kalangan para peneliti dan klinisi apakah penurunan konsentrasi CoQ10 dapat mengganggu rantai respirasi sel dan berkontribusi terhadap miotoksisitas yang diinduksi-statin melalui menurunnya metabolisme mitokondria. Para ahli tidak setuju dengan manfaat pemberian suplementasi CoQ10 rutin untuk pasien yang mengonsumsi statin, dikarenakan minimnya dokumentasi klinis terkait hal ini, sehingga tidak direkomendasikan di dalam guidelines. Levy HB, et al, melakukan sebuah studi untuk mengetahui perlu tidaknya pasien mengonsumsi suplemen yang mengandung CoQ10 untuk mencegah miotoksisitas.  

Penelusuran MEDLINE dilakukan dan ditemukan hasil-hasil sebagai berikut: Terapi statin menurunkan konsentrasi CoQ10 dalam darah namun efeknya terhadap perkembangan miotoksisitas kecil dan berbeda. Disfungsi mitokondria yang diinduksi statin memiliki implikasi klinis yang terbatas. Data terbatas menyatakan bahwa menganjurkan pasien-pasien dengan hiperkolesterolemia familial, gagal jantung, atau yang berusia di atas 65 tahun mungkin berisiko dan akan mendapat manfaat dari suplementasi CoQ10.

Kesimpulannya, suplementasi CoQ10 rutin untuk semua pasien yang mengonsumsi statin untuk mencegah miotoksisitas tidak dianjurkan. Namun, sub-populasi tertentu mungkin berisiko dan memerlukan studi lanjutan untuk mengonfirmasi hal ini.

 

Silakan baca juga: Car-Q100, Suplemen berisi asam amino L-Carnitine dan Coenzyme Q10.

Image: Ilustrasi (Sumber: https://www.health.harvard.edu/)
Referensi:
1. Levy HB, Kohlhaas HK. Considerations for supplementing with coenzyme Q10 during statin therapy. Ann pharmacother.2006;40(2):290-4. 
2. Hargreaves IP, Heales S. Statins and myopathy. Lancet 2002;359:711-2. 
3. Bliznakov EG. Lipid-lowering drugs (statins), cholesterol, and coenzyme Q10. The Baycol case—a modern Pandora’s box. Biomed Pharmacother 2002;56:56-9.

Please login or register to post comments.