Dacomitinib atau Gefitinib, Terapi Lini Pertama Pasien NSCLC Stadium Lanjut Mutasi EGFR

Dacomitinib atau Gefitinib, Terapi Lini Pertama Pasien NSCLC Stadium Lanjut Mutasi EGFR

Mutasi gen epidermal growth factor receptor (EGFR) dijumpai pada sekitar 15% pasien Kaukasia dan 30-40% pasien Asia dengan adenokarsinoma paru stadium lanjut. Penghambat tyrosine kinase (TKI) EGFR generasi pertama, erlotinib dan gefitinib telah menunjukkan response rate dan progression free survival (PFS) yang baik pada populasi pasien tersebut. Di antara mutasi EGFR, delesi exon 19 dan mutasi point exon 21 dikaitkan dengan sensitivitas terhadap TKI EGFR.

Mutasi gen epidermal growth factor receptor (EGFR) dijumpai pada sekitar 15% pasien Kaukasia dan 30-40% pasien Asia dengan adenokarsinoma paru stadium lanjut. Penghambat tyrosine kinase (TKI) EGFR generasi pertama, erlotinib dan gefitinib telah menunjukkan response rate dan progression free survival (PFS) yang baik pada populasi pasien tersebut. Di antara mutasi EGFR, delesi exon 19 dan mutasi point exon 21 dikaitkan dengan sensitivitas terhadap TKI EGFR.

Dacomitinib merupakan molekul kecil oral, TKI generasi kedua, penghambat famili HER tyrosine kinase (EGFR, HER2, HER4). Dibandingkan dengan generasi pertama, dacomitinib memiliki aktivitas penghambatan EGFR kinase wild-type secara in vitro yang sebanding. Namun, dacomitinib lebih poten dibandingkan gefitinib terhadap cell lines dengan mutasi EGFR (del19, L858R). Selain itu dacomitinib memiliki aktivitas penghambatan terhadap model kanker paru exon 20 resisten gefitinib dan mutasi exon 20 T790M resisten yang didapat.

Dalam analisis gabungan studi pada pasien kanker paru jenis bukan sel kecil (non-small cell lung cancer/NSCLC) lokal lanjut atau metastatik mutasi EGFR, yang pernah mendapat kemoterapi sebelumnya, dacomitinib sebanding dengan erlotinib dalam hal progression free survival dan overall survival. Namun dacomitinib dikaitkan dengan insidens diare dan mukositis yang lebih tinggi.

Sedangkan studi ARCHER 1050 merupakan studi fase III dacomitinib, label terbuka, acak, multicenter, internasional yang dilakukan pada pasien NSCLC stadium lanjut newly diagnosed dengan mutasi EGFR (delesi exon 19 atau Leu858Arg) pada 71 pusat kesehatan akademik dan rumah sakit universitas di 7 negara atau region tertentu. Kesimpulan dari studi ini adalah dacomitinib memperbaiki PFS secara bermakna dibandingkan gefitinib sebagai terapi lini pertama pasien NSCLC mutasi EGFR positif dan dipertimbangkan sebagai pilihan terapi baru untuk populasi ini. [HLA]

 

 

Image: Ilustrasi
Referensi:
1. Ou SHI, Soo RA. Dacomitinib in lung cancer: A “lost generation” EGFR tyrosine-kinase inhibitor from a bygone era? Drug Design, Development and Therapy 2015;9:5641-53.
2. Wu YL, Cheng Y, Zhou XD, Lee KH, Nakagawa K, Niho S, et al. Dacomitinib versus gefitinib as first-line treatment for patients with EGFR-mutation-positive non-small-cell lung cancer (ARCHER 1050): A randomised, open-label, phase 3 trial. Lancet Oncol. 2017 doi: 10.1016/S1470-2045(17)30608-3.
3. Ramalingam SS, O’Byrne K, Boyer M, Mok T, Janne PA, Zhang H, et al. Dacomitinib versus erlotinib in patients with EGFR-mutated advanced nonsmall-cell lung cancer (NSCLC): Pooled subset analyses from two randomized trials. Ann Oncol. 2016;27:423-9.

 

 

 

Download

About CDK

Majalah CDK (Cermin Dunia Kedokteran) adalah majalah kedokteran yang telah dipublikasikan sejak tahun 1974 dan terbit setiap bulan. CDK menyajikan informasi-informasi kedokteran yang mutakhir, serta mendukung perkembangan dunia kedokteran di Indonesia. Dari tahun ke tahun, CDK terus memantapkan diri sebagai salah satu referensi ilmiah yang praktis dan terpercaya.

Saat ini CDK bekerjasama dengan PB IDI, dan PP IAI, di mana pada setiap edisi CDK terdapat artikel yang berbobot poin SKP, yaitu CME bagi dokter dan CPD bagi apoteker. Artikel yang dipublish di majalah CDK akan terindeks di google scholar.

 

Bagi sejawat sekalian yang ingin mengirimkan naskah ilmiah ke majalah CDK, baik berupa hasil penelitian, tinjauan pustaka, maupun laporan kasus, silahkan dapat mengirimkannya melalui email atau alamat berikut ini:

 

Redaksi CDK Gedung Kalbe III Lt. 2

Jl. Letjend. Suprato Kav. 4, Cempaka Putih – Jakarta 10510.

Telepon : 021-4208171

Fax : 021-42873685

Email : cdk.redaksi@gmail.com

Please login or register to post comments.

Perlukah Obat Demam pada Demam Berdarah?

Perlukah Obat Demam pada Demam Berdarah?

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan jenis penyakit yang kejadiannya meningkat pada saat musim hujan. Demam yang tidak diatasi dengan segera dan terjadi berlarut dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi, karena pada saat terjadi 

HbA1c Sebagai Prediktor Sumbatan Arteri Koroner, Mungkinkah?

HbA1c Sebagai Prediktor Sumbatan Arteri Koroner, Mungkinkah?

Hemoglobin terglikasi (HbA1C) adalah penanda yang telah dikenal luas untuk menggambarkan kontrol glikemik (kadar gula dalam darah) jangka panjang dan ditetapkan menjadi uji diagnostic untuk pasien-pasien diabetes 

Pemberian Ekstrak Jambu Biji pada Kasus Demam Berdarah Dengue, Efektifkah?

Pemberian Ekstrak Jambu Biji pada Kasus Demam Berdarah Dengue, Efektifkah?

Salah satu tanda dari infeksi demam berdarah dengue (DBD) adalah penurunan jumlah trombosit. Masyarakat kerapkali menggunakan jus jambu biji yang telah dikenal dengan khasiatnya untuk membantu menaikkan jumlah trombosit. 

Pemberian Cairan Koloid untuk Demam Berdarah Dengue, Ini Manfaatnya

Pemberian Cairan Koloid untuk Demam Berdarah Dengue, Ini Manfaatnya

Terapi cairan merupakan hal yang krusial untuk mencegah dehidrasi pada penderita demam berdarah dengue. Jika kondisi klinis memburuk, maka perlu diberikan cairan intravena (infus), seperti cairan kristaloid dan koloid (seperti albumin). Pemberian cairan koloid biasanya diberikan pada saat kondisi pasien telah masuk ke dalam kategori syok refrakter.